Athos Salome, figur publik yang kerap dijuluki sebagai Nostradamus hidup, menyatakan bahwa beberapa klaim prediksinya mengenai tahun 2026 telah terbukti benar di tengah popularitasnya yang kini mencapai 1 juta pengikut di Instagram.
Sosok yang menyebut dirinya sebagai parapsikolog tersebut sebelumnya merilis sepuluh poin prediksi untuk tahun 2026 pada bulan Desember tahun lalu. Laporan mengenai daftar ramalan itu dipublikasikan pertama kali oleh Tyla.
Dalam catatan prediksinya, Salome sempat menyinggung potensi eskalasi antara Iran dan Israel. Ia menyebut bahwa dinamika pengayaan uranium oleh Iran bakal memicu periode ketidakstabilan regional yang baru dan mendalam, khususnya di sekitar kuartal kedua tahun 2026.
Prediksi Geopolitik dan Olahraga
Selain isu Timur Tengah, Salome juga menyoroti manuver militer Rusia. Ia mengklaim bahwa Moskow sedang memindahkan sistem rudal ke berbagai titik strategis di wilayah Arktik.
Baca Juga: Cek Fakta: Klaim Penemuan Batu Shaligram Raksasa 31 Ton Usai Banjir Nepal
"Hal ini meningkatkan kemungkinan terjadinya konfrontasi langsung dengan NATO saat es mencair pada tahun 2026, sebuah masa ketika jalur pelayaran baru dan cadangan energi dapat memainkan peran krusial," ujar Salome memberikan peringatan.
Di luar isu konflik global, peramal asal Brasil tersebut turut mengungkit keberhasilannya dalam menebak ajang olahraga dunia. Ia mengeklaim sukses meramalkan kemenangan Spanyol atas Argentina dengan skor 1-0 di partai final Piala Dunia setelah sebelumnya menyebut sang juara akan mengenakan warna api.
"Sementara banyak peramal dan komentator di seluruh dunia memprediksi Portugal atau negara lain yang akan mengangkat trofi, saya berhasil mengidentifikasi para finalis dan berulang kali menegaskan bahwa Spanyol adalah kandidat juara yang paling mungkin," kata Salome.
Ia menegaskan bahwa skor akhir di lapangan telah memvalidasi prediksinya tersebut. Meskipun demikian, sorotan terhadap kemampuan meramal juga tertuju pada fenomena lain, termasuk aksi seekor kucing bernama Billy yang dilaporkan tepat menebak 22 dari 24 pertandingan dalam turnamen yang sama.
Baca Juga: Banjir Bandang Nepal-Tibet Singkap Ancaman Pemanasan Global di Himalaya
Analisis Kerentanan Nuklir di Arktik
Menanggapi dinamika wilayah utara, peneliti di Existential Risk Lab Universitas Chicago, Carl Parkin, memberikan pandangannya dalam artikel untuk Foreign Policy Research Institute. Menurutnya, pencairan es laut membuka peluang ekonomi bagi Rusia di Arktik sekaligus memperluas kehadiran militernya.
Kendati demikian, Parkin berpendapat bahwa penyusutan es tidak sepenuhnya menguntungkan bagi pertahanan Moskow. Ia menilai kondisi tersebut justru membawa dampak ikutan terhadap kekuatan militer strategis negara tersebut.
"Seiring mencairnya es, senjata nuklir Rusia menjadi semakin rentan," tulis Parkin dalam ulasannya.
Ia menambahkan bahwa pihak sekutu perlu mengambil sikap yang terukur dalam merespons situasi ini. Pendekatan yang berimbang diperlukan agar pemanfaatan kerentanan tersebut tidak memicu reaksi berlebihan dari pihak Rusia.
Baca Juga: Rekaman Longsor Salju Langtang Lirung Nepal Beredar di Medsos
"Sekutu harus mampu menyeimbangkan langkah secara cermat antara memanfaatkan kerentanan ini secara tepat dan menghindari reaksi berlebihan dari pihak Rusia," simpul Parkin.






