Direktur Eksekutif Salam Setara, Ahmad Mujahid, menegaskan bahwa perluasan akses pendidikan tinggi di Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan bantuan biaya maupun perkembangan teknologi. Solusi komprehensif dinilai mendesak mengingat data Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mencatat sekitar 1,9 juta lulusan sekolah menengah tidak melanjutkan kuliah setiap tahunnya.
Ahmad menjelaskan, pendampingan yang melengkapi pembelajaran digital menjadi faktor penentu agar para pelajar dari keluarga kurang mampu dapat menembus perguruan tinggi. "Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ketika masih ada anak muda yang gagal melanjutkan pendidikan karena keterbatasan akses, maka itu menjadi panggilan bagi kita semua untuk menghadirkan solusi. Melalui BISA Project, kami ingin memastikan semakin banyak generasi muda memiliki kesempatan yang setara untuk meraih pendidikan tinggi," ujarnya.
BISA Project yang diinisiasi oleh Salam Setara bersama Kitabisa hadir untuk menjawab tantangan tersebut. Program ini menerapkan model pendampingan yang memadukan beasiswa, bimbingan belajar, mentoring kelompok kecil, konsultasi akademik, pengembangan karakter, hingga pembelajaran digital bagi pelajar dari keluarga prasejahtera.
Sejak diluncurkan pada tahun 2024, program pendampingan ini tercatat telah mendampingi 623 pelajar dari 26 provinsi. Hasilnya, sebanyak 540 peserta berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Baca Juga: Sah! Daftar Gaji PPPK 2025 Semua Golongan, Pencairan Mulai Oktober
Dari total peserta yang lolos kuliah tersebut, sebanyak 84 persen diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain itu, separuh dari jumlah tersebut berhasil menembus 20 perguruan tinggi terbaik di Indonesia berdasarkan versi Webometrics.
Keberhasilan pendampingan berkelanjutan ini kembali terlihat pada pelaksanaan Batch 3 tahun 2026. Sebanyak 401 dari 495 peserta program dinyatakan telah diterima di berbagai perguruan tinggi melalui beragam jalur seleksi.
Model pendampingan akademik ini juga membantu peserta siap menghadapi seleksi sekaligus beradaptasi dengan kehidupan kampus. Salah satu penerima manfaat, Uji Sandi, sempat merasa pesimistis dapat berkuliah karena keterbatasan biaya untuk mengikuti bimbingan belajar.
Melalui pendampingan yang didapat dari program tersebut, Uji Sandi akhirnya berhasil diterima di Program Studi Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor (IPB). Ia mengungkapkan bahwa latar belakang tidak boleh menghalangi semangat untuk maju. "Kita memang tidak bisa memilih terlahir dari latar belakang seperti apa, tetapi kita selalu bisa memilih untuk berhenti atau terus melangkah," kata Sandi.
Baca Juga: Wajib Tahu! Ini 9 Tahapan Seleksi CPNS 2026 yang Harus Dipahami
Selain pendampingan langsung, BISA Project memperluas jangkauan akses program kepada masyarakat umum melalui penyelenggaraan BISA Future Fest 2026. Berbeda dari sebelumnya yang hanya bisa diikuti peserta internal, kegiatan ini kini dapat diakses secara luas.
Acara yang berlangsung pada 24-27 Juli 2026 di Jakarta tersebut menghadirkan talkshow, workshop, serta sesi pengembangan diri. Sejumlah tokoh dan praktisi turut mengisi sesi tersebut, di antaranya Pandji Pragiwaksono dan Andovi da Lopez bersama para pegiat pendidikan.
Forum tersebut menjadi wadah bertemunya pemerintah, lembaga filantropi, dunia pendidikan, dan sektor swasta untuk menguatkan kolaborasi. Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Arif Jamali Muis, menegaskan pentingnya peranan semua pihak. "Pendidikan adalah hak setiap warga negara, dan untuk mewujudkannya mutlak diperlukan kolaborasi dari banyak pihak," ungkapnya.






