Unggahan mengenai perhitungan pemotongan gaji sebesar satu persen untuk iuran BPJS Kesehatan memicu kritik meluas dari pengguna media sosial di platform Threads dan X. Narasi yang membandingkan persentase iuran dengan biaya pengeluaran harian tersebut dinilai meremehkan kewajiban peserta penerima upah.
Kontroversi ini bermula dari pernyataan akun Nakesindo di platform Threads yang membeberkan kalkulasi pemotongan gaji. Dalam unggahannya, akun tersebut mengkalkulasikan bahwa pekerja dengan gaji Rp 5 juta hanya dipotong sebesar Rp 50 ribu untuk iuran kesehatan.
Akun tersebut lantas menyandingkan nominal Rp 50 ribu dengan biaya makan lima orang di kafe. Narasi tersebut menekankan bahwa nilai tersebut sudah memberikan perlindungan kesehatan bagi peserta dan keluarga, termasuk menanggung biaya tindakan medis besar seperti cuci darah.
Selain menyoroti besaran potongan, akun tersebut mengingatkan bahwa seluruh kelompok peserta wajib mengikuti alur pelayanan medis yang berlaku. Ketentuan prosedur rujukan ini berlaku setara bagi peserta PBI, pekerja penerima upah, ASN, TNI-Polri, hingga pejabat.
Baca Juga: Polisi Sita 1.785 Obat Keras dan Tangkap Pengedar di Tangerang
Pernyataan akun Nakesindo langsung memicu tanggapan keras publik. Sorotan timbul karena unggahan tersebut muncul saat masyarakat masih membicarakan kasus komentar nirempati dari oknum tenaga kesehatan terhadap pasien di media sosial.
Sejumlah pengguna internet segera menyanggah logika kalkulasi yang disampaikan dalam unggahan itu. Akun @nadyadelia membeberkan bahwa iuran BPJS Kesehatan Kelas 3 sebesar Rp 35 ribu per orang, sehingga beban keluarga dengan enam anggota mencapai Rp 210 ribu per bulan.
Warganet lain menekankan konsep dasar jaminan kesehatan publik yang berbasis gotong royong. Akun @KhloellaDeVil menyatakan bahwa BPJS Kesehatan menggunakan mekanisme subsidi silang, sehingga pemotongan gaji dalam persentase berapa pun tetap menjadi hak sah peserta untuk memperoleh pelayanan.
Sikap dan cara penyampaian akun Nakesindo juga mendapatkan penolakan dari kalangan tenaga medis sendiri. Dokter dengan akun @4li_syahab menyampaikan kritik terbuka atas nada bicara yang digunakan dalam utas tersebut.
Ia menegaskan bahwa narasi yang diunggah akun Nakesindo sama sekali tidak mewakili profesi medis secara umum. "Cuma mau bilang ke Warga thread akun ini sedikitpun tidak mewakili para nakes ya, gw sebagai dokter pun 'jijik' melihat utasnya," kata @4li_syahab.
Kritik terkait momentum penyampaian juga diutarakan oleh akun @drg.mirza. Ia mengingatkan pentingnya menahan diri dan tidak menyebarkan narasi yang berpotensi membenturkan kelompok tenaga medis dengan pasien di tengah situasi yang sedang hangat.
Gelombang tanggapan di media sosial ini juga diwarnai oleh beragam pengalaman warga terkait pelayanan BPJS Kesehatan, termasuk urusan antrean dan rujukan. Publik menilai pemilihan bahasa serta ketepatan waktu dalam membahas isu pelayanan kesehatan menjadi hal yang sangat sensitif.

