Perusahaan kontraktor asal Ohio, Darana Hybrid, melayangkan dua klaim hak tanggungan hukum terhadap SpaceXAI atas penunggakan pembayaran proyek pembangunan pusat data. Tuntutan tersebut mewajibkan perusahaan milik Elon Musk membayarkan dana lebih dari USD 136 juta atau setara Rp 2,4 triliun atas pengerjaan yang telah dilakukan sejak 2024.
Fasilitas yang menjadi objek sengketa pembayaran ini merupakan bagian dari pengembangan kompleks pusat data Colossus berukuran luas yang bertempat di dekat kawasan Memphis. SpaceXAI sendiri merupakan entitas bisnis yang sebelumnya dikenal sebagai xAI sebelum akhirnya digabungkan ke dalam struktur SpaceX.
Rincian tuntutan hak tanggungan tersebut terbagi ke dalam dua lokasi pengerjaan utama. Klaim pertama mencakup nilai tagihan sebesar USD 18 juta untuk pembangunan fasilitas Colossus tahap awal di dekat Boxtown, sedangkan klaim kedua bernilai lebih dari USD 118 juta dialokasikan untuk pengerjaan fasilitas kedua di wilayah Whitehaven.
Jurnalis Dima Amro mengonfirmasi adanya keterlambatan kewajiban finansial dari pihak pengembang kepada para pekerja konstruksi di lapangan. "Para kontraktor menyatakan bahwa mereka belum dibayar atas pekerjaan konstruksi yang telah dilakukan bertahun-tahun," ujar Amro.
Baca Juga: Florida Python Challenge 2026 Eliminasi 280 Ular Invasif di Everglades
Potensi Klaim Tambahan dan Kontraktor Lain
Masalah pembayaran pada proyek fasilitas data tersebut tidak hanya membelit Darana Hybrid. Dua perusahaan penyedia jasa konstruksi lainnya, yakni USW-Menard Inc dan TorcSill Foundations, telah melayangkan klaim resmi dengan nilai akumulasi mencapai lebih dari USD 2,2 juta atas pekerjaan mereka di area pusat data SpaceXAI.
Potensi nilai sengketa finansial ini diperkirakan masih akan terus membengkak secara signifikan. Pemilik Darana Hybrid, Darryl Cuttell, berencana mengajukan klaim utang tambahan yang berpotensi mendorong total akumulasi tunggakan pembayaran hingga melampaui angka setengah miliar dolar.
Mengenai potensi perluasan tuntutan hukum tersebut, Amro memberikan rincian terkait rencana langkah hukum berikutnya. "Jadi sepertinya akan ada lebih banyak klaim yang muncul ke permukaan. Klaim senilai sekitar USD 400 juta lagi. Saya mendapat kabar bahwa gugatan tersebut akan diajukan di Mississippi untuk fasilitas-fasilitas SpaceXAI di sana," ungkapnya.
Dampak Operasional dan Masalah Lingkungan
Penundaan hak pembayaran bernilai ratusan juta dolar ini berdampak sangat berat terhadap kehidupan pribadi dan kondisi psikologis pemilik perusahaan. Amro menuturkan kondisi yang dialami oleh Cuttell akibat situasi tersebut. "Dia mengatakan tidak bisa tidur selama lebih dari empat bulan. Berat badannya turun drastis. Dan dia merasa seolah tidak ada masa depan lagi saat ini setelah mengajukan klaim-klaim tersebut," katanya.
Baca Juga: Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026: Durasi Totalitas dan Panduan Pengamatan Aman
Di sisi lain, keterlambatan pembayaran kewajiban ini mengindikasikan cara instan SpaceXAI agar pusat data tersebut dapat beroperasi secepat mungkin. Pembangunan dua fasilitas data center Colossus di kawasan Greater Memphis tersebut memang memicu perhatian publik terkait dampak lingkungan.
Demi mengoperasikan fasilitas secepat mungkin, pihak pengelola mendatangkan turbin gas dengan tingkat emisi polusi yang tinggi. Keberadaan turbin gas tersebut mengundang keluhan dari warga setempat karena membuat udara sekitar menjadi sesak.
Persoalan tunggakan pembayaran ini memperpanjang rekam jejak perselisihan finansial bisnis milik Musk dengan mitra kerja berskala kecil. Sebuah investigasi pada tahun 2025 menemukan bahwa para kontraktor untuk perusahaan otomotif Tesla telah mengajukan klaim atas tunggakan pembayaran bernilai lebih dari USD 110 juta dalam kurun waktu lima tahun terakhir, di mana banyak dari kontraktor tersebut merupakan usaha berskala kecil dan bisnis keluarga.






