Perusahaan-perusahaan teknologi raksasa di China saling berebut mendapatkan calon peneliti kecerdasan buatan (AI) terkemuka dengan menawarkan paket kompensasi hingga 1 juta yuan atau sekitar Rp 2,6 miliar. Tawaran bernilai fantastis ini disodorkan kepada para kandidat beberapa tahun sebelum mereka resmi menyelesaikan studi di perguruan tinggi.
Langkah perburuan talenta sejak dini tersebut dilakukan akibat persaingan yang kian ketat di industri teknologi. Para perekrut bahkan aktif mengontak kandidat potensial sekitar tiga hingga empat tahun sebelum kelulusan, serta rutin menggelar seminar, konferensi, dan beragam acara untuk membangun relasi sejak awal.
Fenomena ini dialami oleh Hu Qi, seorang peneliti doktoral di University of Hong Kong yang mendalami bidang keamanan agen AI. Meski masih memiliki sisa waktu studi sekitar dua tahun dalam program Ph.D, dirinya sudah mulai didekati oleh banyak perekrut dari berbagai perusahaan.
Di saat yang sama, manajer di perusahaan teknologi tempat Hu Qi menjalani program magang secara berkala menanyakan rencana pasca kelulusannya. Pihak manajemen terus mendorongnya agar bersedia bergabung secara penuh waktu segera setelah ia menyelesaikan gelarnya.
Baca Juga: Kemensos Gelar MPLS Sekolah Rakyat di Banten, Sediakan Pendidikan Berasrama Gratis
Kebutuhan Tenaga Ahli AI
Perburuan agresif ini dipicu oleh proyeksi kelangkaan tenaga ahli AI di China. Berdasarkan perhitungan perusahaan konsultan McKinsey, negara tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 6 juta pekerja AI pada tahun 2030, sementara pasokan tenaga kerja saat ini diprediksi hanya akan menghasilkan sekitar 2 juta pekerja.
Analis McKinsey, Alex Sawaya, menilai China memiliki dua opsi realistis dalam mengantisipasi celah tersebut. Opsi tersebut adalah melatih ulang tenaga kerja yang ada saat ini atau memperluas pasokan talenta AI secara berkelanjutan untuk masa depan.
Mengenai sengitnya perburuan kandidat terbaik, Direktur Silicon Valley Associates Recruitment, Vahid Haghzare, menegaskan pentingnya bertindak cepat. "Perusahaan yang menunggu hingga kelulusan untuk mencari tahu siapa lulusan terbaik pasti kalah," kata Haghzare.
Program Rekrutmen Khusus dan Lonjakan Gaji
Sejumlah perusahaan besar seperti ByteDance, Alibaba, dan Tencent Holdings bahkan meluncurkan program rekrutmen elite tahunan. Program khusus ini menyasar para mahasiswa yang diperkirakan baru akan menyelesaikan pendidikan pada tahun 2027.
Baca Juga: Wamensos Cek Progres Pembangunan Sekolah Rakyat di Tiga Daerah
Langkah perburuan talenta juga menyasar jenjang pendidikan yang lebih muda. Lisa Wu selaku COO startup AI generatif Tripo AI mengungkapkan bahwa perbauan program pengembangan bakat di perusahaannya kini diperluas hingga menjangkau siswa sekolah menengah atas (SMA).
Tingginya persaingan turut memicu lonjakan anggaran gaji di sektor teknologi China. Menurut data perusahaan konsultan dan pialang WTW, industri teknologi mencatat kenaikan anggaran gaji tertinggi di China tahun ini sebesar 4,6%, sedikit di atas median nasional yang berada di angka 4,3%.
CEO Dolphin Leap Career, Dana Zheng, menyebut paket kompensasi tahunan bagi profesional AI—termasuk alokasi saham—sering kali menembus angka tujuh digit yuan. Gaji pokok rata-ratanya saja diperkirakan mencapai sekitar 60.000 yuan per bulan, atau setara 16 kali rata-rata pendapatan bersih bulanan di China.
Ekonom Economist Intelligence Unit, Tianchen Xu, menjelaskan alasan di balik tawaran tinggi tersebut. "Di pasar di mana posisi ilmuwan AI dan algoritme sudah mematok gaji yang sangat tinggi, perusahaan berusaha mengidentifikasi talenta berpotensi tinggi sebelum pasar sepenuhnya mematok harga mereka," ungkap Xu.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Siapkan Rp4 Miliar untuk Sarana PAUD
Meski penawaran finansial sangat besar, kompensasi uang bukan satu-satunya faktor penarik bagi para peneliti AI terkemuka. Banyak kandidat lebih memprioritaskan akses terhadap sumber daya komputasi, ketersediaan data berkualitas tinggi, kesempatan bekerja bersama tim kelas dunia, serta peluang memecahkan masalah kompleks dan menerapkan sistem AI berskala besar.






