Ajang konferensi telekomunikasi tahunan Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 menghadirkan format baru melalui peluncuran IgnitePRO di Bali. Kehadiran program ini dirancang untuk mendampingi sektor korporasi dalam mentransformasikan ambisi pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan menjadi implementasi yang menghasilkan nilai komersial nyata.
Chief Commercial Officer Kharisma menjelaskan bahwa IgnitePRO merupakan bentuk perluasan dari agenda utama BATIC. Format tersebut diinisiasi setelah muncul desakan agar kebutuhan spesifik pelaku bisnis korporasi memperoleh ruang diskusi tersendiri.
"Ini adalah perluasan daripada event BATIC untuk mungkin lebih banyak menyorot apa kontribusi dari digital provider terhadap enterprise supaya mereka bisa memanfaatkan, mengoptimalkan teknologi AI supaya mereka bisa lebih efektif dan juga mendapatkan return dari investasi di AI-nya dengan lebih maksimal," ujar Kharisma di Nusa Dua.
Menurut Kharisma, banyak perusahaan saat ini memiliki keinginan kuat untuk mengadopsi teknologi pintar tersebut. Namun, dalam realisasinya, masih terdapat jurang pemisah antara niat penerapan dengan kapabilitas eksekusi di lapangan.
Baca Juga: Aplikasi Peta Pertimbangkan Perubahan Nama Danau Ontario
"Apa ambisi dari enterprise pada saat mereka mau mengimplementasikan AI? Apa gap yang ada? Bagaimana kemudian kita di digital ecosystem ini bisa menjembatani atau meminimalkan dari gap tersebut," katanya.
Perluasan Fokus Transformasi Digital
Jika pelaksanaan BATIC sebelumnya lebih banyak berfokus pada pembahasan konektivitas serta infrastruktur jaringan dasar, IgnitePRO membawa materi diskusi mendekati kebutuhan operasional perusahaan secara langsung. Pelaksanaan di Bali ini menandai debut perdana format tersebut dalam rangkaian acara BATIC.
"Berapa benefit yang mereka dapatkan dari sisi, katakanlah, return-nya dengan spending seperti itu. Apakah ini bisa membuat mereka jadi lebih baik lagi? Makanya harus ada forum-forum untuk sharing," kata Budi.
Baca Juga: Meta Gulirkan Pembaruan Kacamata Pintar Atasi Privasi Perekaman
Keamanan Siber dan Infrastruktur Fleksibel
Selain membahas kecerdasan buatan, rangkaian diskusi dalam forum ini juga mengangkat isu keamanan siber serta infrastruktur digital cerdas sebagai elemen vital transformasi korporasi. Budi menilai perlindungan siber kian mendesak karena insiden serangan terhadap sektor esensial seperti perbankan dapat memicu dampak luas.
Kebutuhan konektivitas korporasi pun mengalami pergeseran tren. Pelaku bisnis kini menuntut ketersediaan infrastruktur yang adaptif, contohnya kapasitas pita lebar yang bisa ditingkatkan sewaktu-waktu dan diturunkan kembali saat kebutuhan mereda.
Di sisi lain, keberhasilan pemanfaatan teknologi pintar ini sangat bergantung pada tingkat kepercayaan publik. Teknologi yang sama di satu sisi mendongkrak produktivitas, namun di sisi lain menyimpan risiko peningkatan ancaman digital.
Oleh karena itu, transformasi teknologi tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan perangkat keras. Korporasi diwajibkan untuk tetap menjaga aspek keamanan, membangun kepercayaan pengguna, serta mengukur secara cermat manfaat finansial yang diperoleh.
Baca Juga: Apple TV dan Paket Apple One Resmi Naikkan Harga di AS






