Sutradara Poh Si Teng bersama para dokter relawan yang menjadi subjek utama film dokumenter "American Doctor" hadir dalam episode khusus siniar Doc Talk di hadapan penonton langsung di Los Angeles. Acara tersebut direkam dalam rangkaian festival American Cinemathequeâs Friend of the Fest 2026 di bioskop Los Feliz 3, di mana sang pembuat film dan para narasumber disambut dengan tepuk tangan meriah atau standing ovation.
Film dokumenter ini menyoroti pengalaman tiga dokter asal Amerika Serikat yang memilih berangkat ke Gaza untuk memberikan pertolongan medis kepada anak-anak Palestina. Keputusan tersebut diambil meskipun mereka menyadari risiko keselamatan jiwa yang sangat tinggi di zona konflik.
Latar Belakang dan Latar Belakang Para Dokter
Tiga dokter yang tampil dalam film tersebut berasal dari latar belakang etnis serta agama yang beragam. Dr. Mark Perlmutter merupakan seorang dokter bedah ortopedi beragama Yahudi, Dr. Thaer Ahmad adalah seorang dokter berdarah Palestina-Amerika, sementara Dr. Feroze Sidhwa berasal dari keturunan Pakistan dengan tradisi keagamaan Zoroastrian.
Di tengah perbedaan latar belakang tersebut, para dokter ini bersatu dalam mengecam tindakan Israel. Mereka menuding Israel telah melakukan genosida di Jalur Gaza menyusul serangan kelompok Hamas pada 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Chris McKenna Ungkap Alasan Keluar dari Serial General Hospital
Dalam keterangannya, Dr. Perlmutter menyebut kematian ribuan anak Palestina akibat serangan Pasukan Pertahanan Israel atau IDF sebagai pembunuhan anak-anak terbesar yang pernah ia saksikan sepanjang hidupnya. Ia bahkan mendefinisikannya sebagai pembunuhan anak paling mengerikan yang pernah ia lihat selama bertugas secara sukarela di rumah sakit-rumah sakit Gaza.
Diskusi dan Topik Siniar Doc Talk
Poh Si Teng menjelaskan alasan di balik keputusannya memfokuskan dokumenter ini pada ketiga dokter tersebut. Ia juga membandingkan pendekatan naratif dalam filmnya dengan drama medis televisi populer seperti "The Pitt" dan "ER".
Dalam siniar tersebut, Dr. Ahmad turut membagikan pandangannya mengenai pengumuman investigasi kriminal oleh IDF terkait kematian Hind Rajab. Bocah perempuan Palestina berusia lima tahun itu tewas setelah terjebak di dalam kendaraan keluarnya di Gaza yang mendapat tembakan berkelanjutan dari pihak Israel, sebuah kisah yang sebelumnya juga diangkat dalam film drama "The Voice of Hind Rajab". Selain itu, Dr. Ahmad memaparkan penjelasan yang ia terima mengenai penolakan Israel terhadap dirinya untuk kembali masuk ke Gaza guna melanjutkan perawatan bagi korban luka.
Sementara itu, Dr. Sidhwa membahas apakah latar belakangnya yang bukan beragama Yahudi, Muslim, maupun Kristen memberikan objektivitas lebih besar dalam menilai situasi yang ia saksikan langsung di lapangan. Di sisi lain, Dr. Perlmutter dan Poh Si Teng turut mengulas dinamika politik dukungan tradisional Amerika Serikat terhadap Israel, termasuk perubahan sikap yang dialami Dr. Perlmutter saat mendatangi kantor seorang senator konservatif AS yang sebelumnya menolak memberikan akses masuk baginya.
Baca Juga: Chris McKenna Bicara soal Keluarnya Jack Brennan dari General Hospital
Siniar Doc Talk edisi khusus ini dipandu oleh pemenang Oscar John Ridley yang dikenal lewat film "12 Years a Slave" dan "Shirley", bersama Matt Carey selaku editor senior dokumenter Deadline. Program audio tersebut merupakan hasil produksi bersama antara Deadline dan NÅ Studios milik John Ridley, serta dapat disaksikan maupun didengarkan melalui berbagai platform siniar utama.




