Google dipastikan tidak perlu melepaskan unit bisnis periklannya setelah hakim federal mengeluarkan putusan dalam perkara antimonopoli yang bergulir. Keputusan tersebut disampaikan oleh Hakim Distrik Pengadilan Distrik Amerika Serikat untuk Distrik Virginia pada Rabu.
Putusan Hakim Terkait Operasi Periklanan
Meskipun rincian spesifik mengenai pemulihan yang ditetapkan oleh hakim belum sepenuhnya diungkapkan ke publik karena dokumen putusan masih berada dalam status tertutup, dipastikan bahwa Google tidak diwajibkan untuk menjual bursa iklan miliknya. Langkah penjualan aset tersebut sebelumnya secara khusus diajukan oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat atau DOJ.
Dalam pertimbangannya, hakim menyatakan keraguan terhadap gagasan penjualan aset iklan tersebut dengan alasan bahwa tidak ada cara untuk memastikan pihak mana yang akan membeli serta mengoperasikan aset-aset tersebut nantinya. Selama proses persidangan, pihak Google juga telah berargumen bahwa pelepasan bagian-bagian dari portofolio iklannya pada akhirnya justru akan mendatangkan kerugian bagi para konsumen.
Latar Belakang Pelanggaran Antimonopoli
Keputusan ini keluar setelah pada tahun sebelumnya hakim menyimpulkan bahwa perusahaan telah secara sengaja melakukan serangkaian tindakan anti-persaingan demi memperoleh serta mempertahankan kekuatan monopoli di pasar server iklan penerbit dan bursa iklan untuk periklanan bergambar web terbuka.
Baca Juga: Adobe Bawa Lebih dari 70 Alat Kreatif ke Platform Slack
Hakim menyatakan bahwa perusahaan berupaya mempertahankan kekuasaan monopoli tersebut dengan cara menerapkan kebijakan yang anti-persaingan kepada para pelanggannya serta menghilangkan berbagai fitur produk yang dinilai diinginkan oleh pengguna. Kasus teknologi periklanan yang disidangkan di hadapan hakim tersebut awalnya diajukan pada masa pemerintahan Joe Biden dan kemudian dilanjutkan oleh Departemen Kehakiman di bawah kepemimpinan Donald Trump.
Kontribusi Pendapatan dan Riwayat Gugatan
Berdasarkan data perusahaan, Google menyatakan bahwa sekitar 70 persen dari total pendapatan senilai 403 miliar dolar AS pada tahun 2025 diperoleh dari sektor iklan online. Sejak masa pemerintahan Obama, perusahaan teknologi raksasa ini telah menghadapi berbagai gugatan hukum yang secara konsisten mempertanyakan dominasi mereka di sektor periklanan.
Secara lebih luas, industri teknologi besar atau Big Tech terus menghadapi berbagai desakan serta serangan hukum yang mendorong agar perusahaan-perusahaan tersebut dipecah menjadi unit-unit yang lebih kecil. Kendati demikian, perusahaan besar lainnya seperti Meta dan Amazon sebelumnya juga berhasil melalui berbagai gugatan hukum dengan tetap utuh dan menghindari skenario pemecahan bisnis.




