Mayoritas warga Amerika Serikat kini tercatat menolak pembangunan pusat data kecerdasan buatan di dekat wilayah mereka, memicu gelombang perlawanan yang direspons oleh pemerintah AS dan kalangan industri teknologi melalui kampanye pemasaran baru tahun ini. Gelombang penolakan ini muncul di tengah kekhawatiran masyarakat terhadap lonjakan biaya energi, masalah lingkungan, serta ketidakpercayaan yang mendalam terhadap perusahaan teknologi.
Hasil Studi dan Sikap Politik Publik
Sebuah studi baru dari Annenberg Public Policy Center menunjukkan bahwa sekitar dua pertiga atau 61 persen orang dewasa di AS menolak pembangunan pusat data baru di sekitar tempat tinggal mereka. Sentimen negatif tersebut dilaporkan melintasi batas partai politik, yang dibagikan oleh 69 persen dari kalangan Demokrat, 54 persen dari Republikan, serta 53 persen dari pemilih independen.
Presiden Donald Trump turut menyampaikan pernyataan keras melalui platform Truth Social, dengan menyebutkan bahwa komunitas lokal yang menolak pusat data akan berakhir menjadi wilayah yang tertinggal dan miskin. Ia juga menyamakan penolakan tersebut seperti membunuh angsa bertelur emas yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
Strategi Pendanaan dan Jaringan Super-PAC
Kampanye promosi yang dinamai Build American AI digagas oleh jaringan super-PAC Leading the Future, yang didukung oleh koalisi investor Silicon Valley, eksekutif teknologi, serta para operator politik berpengalaman. Berdasarkan dokumen pengajuan, kelompok tersebut awalnya berhasil mengumpulkan dana sebesar 100 juta dolar AS dari pihak-pihak terkait.
Baca Juga: Uber dan Wayve Luncurkan Layanan Taksi Otonom Pertama di London
Sejumlah tokoh terkemuka yang menjadi penyandang dana meliputi pemodal ventura Marc Andreessen dan Ben Horowitz, Presiden OpenAI Greg Brockman, salah satu pendiri Palantir Joe Lonsdale, investor Ron Conway, serta mesin pencari AI Perplexity. Pada tahap awal, kampanye tersebut menargetkan negara bagian penentu kemenangan pemilu seperti Kansas, Ohio, dan Wisconsin.
Tantangan Pemasaran dan Realitas Lapangan
Perusahaan periklanan AdImpact mencatat bahwa pengeluaran total untuk iklan terkait pusat data baru mencapai 7,6 juta dolar AS tahun ini setelah melacak sekitar 15.000 penayangan siaran. John Link selaku wakil presiden data di firma tersebut menyatakan bahwa sebagian besar anggaran iklan justru diarahkan untuk menentang pusat data, dengan 73 persen pendanaan berasal dari kandidat Partai Demokrat.
Pakar pemasaran menilai upaya untuk mengubah opini publik ini akan menghadapi jalan terjal akibat polarisasi masyarakat yang tinggi. Ari Lightman, profesor media digital dan pemasaran di Heinz College, Carnegie Mellon University, menyebutkan bahwa perusahaan teknologi berusaha membangun argumen tentang manfaat lokal, tetapi komunitas justru merespons dengan ketidakpercayaan.
Menurut Lightman, perusahaan-perusahaan tersebut sedang "trying to create an argument that local communities are going to benefit from the data center," namun warga di tingkat lokal menanggapi dengan tegas, "saying, no, we don’t believe you."
Baca Juga: Uber Hadirkan Layanan Robotaxi di London Bersama Wayve
Selain itu, kampanye pro-pusat data dikhawatirkan bertolak belakang dengan pengalaman nyata masyarakat yang menghadapi polusi suara atau kenaikan tagihan utilitas. Elie Barreby selaku kepala SEO dan pencarian AI di Adorama menegaskan bahwa tidak ada strategi pemasaran yang dapat menutupi pengalaman buruk di dunia nyata dengan menyatakan "Nobody can advertise their way out of a bad user experience."
Joe Szynkowski selaku pendiri perusahaan humas The UpWrite Group menambahkan bahwa komunitas menghadapi terlalu banyak dampak negatif nyata sehingga tidak mudah dikecoh oleh kampanye pemasaran. Ia menilai bahwa "the only way a national campaign can bring down the temperature will be tying the benefits of data centers to the everyday life of people in the affected communities."




