Kemampuan menyelam Suku Bajo atau Suku Bajau yang hidup sebagai pengembara laut di perairan Indonesia, Malaysia, dan Filipina telah lama menarik perhatian dunia karena berada di atas rata-rata manusia biasa.
Berdasarkan data National Geographic, kelompok masyarakat ini mampu mencapai kedalaman 200 kaki atau sekitar 61 meter dalam sekali tarikan napas tunggal. Mereka juga tercatat mampu bertahan di bawah air selama lebih dari sepuluh menit, yang setara dengan ketinggian gedung 15 hingga 20 lantai di darat.
Penelitian Ilmiah dan Pemetaan Genetik
Studi terkait kemampuan khusus tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Cell lewat artikel bertajuk 'Physiological and Genetic Adaptations to Diving in Sea Nomads' pada 19 April 2018. Dalam laporan tersebut, para peneliti menyatakan bahwa kelompok ini mungkin memang telah berevolusi secara fisik untuk mendukung aktivitas menyelam.
Untuk menguji hipotesis tersebut, tim peneliti menetapkan dua desa pesisir yang berjarak sekitar 25 kilometer satu sama lain di semenanjung Sulawesi Tengah, Indonesia. Kedua wilayah itu adalah Desa Jaya Bakti dan Koyoan yang masing-masing dihuni oleh masyarakat Suku Bajau serta Suku Saluan.
Baca Juga: Guy Pearce Perankan Rupert Murdoch dalam Teaser Film Ink Arahan Danny Boyle
Peneliti kemudian merekrut 59 individu dari Suku Bajau dan 34 individu dari Suku Saluan untuk dilibatkan dalam observasi. Dari para partisipan tersebut, tim mengambil sampel air liur untuk keperluan analisis DNA serta melakukan pengukuran organ limpa menggunakan alat ultrasonografi portabel.
Perbedaan Ukuran Limpa dan Faktor Genetik
Dari hasil pemeriksaan ultrasonografi, diketahui bahwa Suku Bajo memiliki ukuran limpa rata-rata 50 persen lebih besar dibandingkan Suku Saluan. Temuan ini menguatkan dugaan bahwa karakteristik fisik tersebut memegang peranan penting dalam aktivitas penyelaman.
Dalam sebuah studi terhadap spesies anjing laut penyelam, ditemukan adanya korelasi positif antara durasi penyelaman maksimum dan massa limpa; hal ini mengisyaratkan bahwa ukuran limpa bisa menjadi karakteristik penting yang memengaruhi durasi penyelaman, terang peneliti di jurnal tersebut.
Menariknya, karakteristik ukuran limpa yang besar ini ditemukan pada seluruh masyarakat Bajo, termasuk individu yang tidak bekerja sebagai penyelam. Kondisi ini membuktikan bahwa ciri fisik tersebut bersifat genetik dan bukan sekadar dampak dari latihan fisik harian.
Baca Juga: CAMS: Karhutla di Indonesia Meningkat dan Dipicu El Nino
Selain itu, langkah pertama kami adalah mengidentifikasi apakah terdapat bukti bahwa suku Bajau memiliki ukuran limpa yang lebih besar dibandingkan tetangga geografis terdekat mereka, suku Saluan, yang interaksinya dengan lingkungan laut tergolong minim, ungkap peneliti.
Peran Gen PDE10A dan BDKRB2
Melalui pemindaian genom, para ilmuwan berhasil mengidentifikasi adanya seleksi alam yang kuat pada gen PDE10A. Peningkatan hormon tiroid yang dipicu oleh gen ini secara biologis menyebabkan pembesaran ukuran limpa pada Suku Bajo.
Dengan pembesaran organ tersebut, tubuh mereka memiliki cadangan oksigen yang jauh lebih banyak ketika harus menahan napas di dalam air. Selain itu, terdapat pula adaptasi gen BDKRB2 yang berkaitan erat dengan refleks penyelam.
Reseptor bradikinin B2 atau BDKRB2 merupakan suatu peptida sinyal yang terkait dengan vasodilatasi maupun vasokonstriksi. Gen ini diindikasikan memengaruhi vasokonstriksi perifer yang dipicu oleh respons menyelam.
Baca Juga: Karhutla Bromo Capai 720 Ha, DPR Minta Evaluasi Total SOP
Mekanisme biologis tersebut berhasil menghemat pasokan oksigen agar tetap dialirkan secara optimal ke organ-organ vital seperti otak dan jantung, meskipun individu yang bersangkutan sedang melakukan penyelaman ekstrem.





