OpenAI, Anthopic, dan lebih dari 100 perusahaan lain mengeluarkan peringatan bersama bahwa seluruh pihak hanya memiliki waktu beberapa bulan untuk bersiap menghadapi serangan siber yang didorong oleh kecerdasan buatan menyusul serangkaian insiden peretasan agen AI yang dinilai mengkhawatirkan.
Surat bersama tersebut menuntut adanya tanggapan kolektif serta mendesak setiap organisasi agar menjadikan pertahanan siber sebagai prioritas kepemimpinan yang mendesak. Dokumen itu juga meminta pemerintah memberikan akses pertahanan AI yang mumpuni kepada fasilitas kesehatan, utilitas air, dan pemerintah daerah, serta menuntut penjatuhan biaya kepada para pelaku penyerangan. Kendati demikian, Axios melaporkan bahwa surat tersebut tidak mencantumkan komitmen spesifik, tenggat waktu, maupun bentuk investasi tertentu.
Aktivitas Malicious Cyber pada Infrastruktur Air
Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur Amerika Serikat (CISA) menyatakan telah mengamati aktivitas siber berbahaya yang menyasar lebih dari 100 sistem air serta air limbah di seluruh wilayah Amerika Serikat. Serangan tersebut sebagian besar mengincar pengontrol logika terprogram atau PLC yang berfungsi memantau dan mengendalikan peralatan, di mana sejumlah komunitas menghubungkan perangkat-perangkat itu ke internet agar dapat diakses dari jarak jauh.
Menurut laporan TechCrunch, CISA turut mengungkapkan bahwa para peretas memanfaatkan kecerdasan buatan untuk membantu menghasilkan skrip guna menyerang perangkat-perangkat tersebut. Sebelumnya, pada Juli lalu, laporan internal mengungkap memo industri yang mengaitkan gelombang serangan siber belum pernah terjadi sebelumnya kepada Iran.
Baca Juga: Banjir Bandang Himalaya Soroti Risiko Proyek Infrastruktur Raksasa
Kasus Penggunaan Kamera Pengawas dan Penegakan Hukum
Di tingkat domestik, sebuah kasus menonjol ditemukan di Alpharetta, Georgia, ketika seorang petugas kepolisian dituduh menggunakan kamera pembaca pelat nomor otomatis milik Flock Safety untuk mencari pelat kendaraan milik rekan kerjanya hingga puluhan kali setelah hubungan asmara keduanya berakhir. Dokumen internal menunjukkan bahwa departemen kepolisian tempat mereka bekerja turut membagikan data tangkapan kamera Flock kepada lebih dari 2.000 instansi kepolisian, perguruan tinggi, dan organisasi lain di Amerika Serikat, serta bertukar data dengan lebih dari 1.300 entitas.
Dalam perkembangan penegakan hukum lainnya, Biro Investigasi Federal (FBI) mengumumkan keberhasilan mereka melumpuhkan dua alat yang menurut Departemen Kehakiman digunakan oleh kelompok peretas disponsori negara asal Tiongkok, QTFY. Kelompok tersebut dituduh menargetkan berbagai lembaga di Amerika Serikat, termasuk Senat AS dan Departemen Kehakiman.
Penyelesaian Hukum Meta dan Anggaran Teknologi Keamanan
Meta mencapai kesepakatan penyelesaian dalam gugatan multibarang tingkat negara bagian terkait isu keselamatan anak dan menyetujui perubahan substansial pada platform media sosial miliknya. Perusahaan tersebut sepakat membayar hingga 16,7 miliar dolar Amerika Serikat kepada negara bagian serta teritori AS yang berpartisipasi dengan ketentuan sebagian dana bergantung pada adopsi praktik serupa oleh para kompetitor.
Sementara itu, Badan Imigrasi dan Bea Cukai Amerika Serikat (ICE) berencana menggelontorkan dana lebih dari satu juta dolar untuk pengadaan anjing robot dari Boston Dynamics guna meningkatkan keselamatan petugas melalui kendali jarak jauh. Pembelian ini menyusul pengumuman sebelumnya mengenai pengadaan sarung tangan kejut listrik bagi para petugas, di tengah pengajuan anggaran diskresioner hampir 100 miliar dolar oleh Departemen Keamanan Dalam Negeri pada bulan April lalu.
Baca Juga: Mikroba Bumi Diyakini Mampu Bertahan di Kutub Selatan Bulan





