BERITA TREN – Habis gelap terbitlah terang, sebuah semboyan yang merupakan intisari dari tulisan-tulisan Kartini di dalam surat-suratnya.
Dari kegelapan menuju cahaya, kutipan dari terjemahan sebuah ayat dalam Al-Quran tersebut menjadikanya sebuah cita-cita yang suci dan mulia.
Dibalik kuatnya pemikiran RA. Kartini, ada sosok guru spiritual yang ikut andil dalam membentuk karakter dan kepribadiannya.
Baca Juga: 5 Amalan Malam Takbiran yang Dapat Mendatangkan Keberkahan Menjelang Idul Fitri
Seseorang mengenalkan Kartini akan kandungan Al-Quran, bukan hanya sekedar bacaan saja melainkan dengan tafsir dalam bahasa jawa yang difahaminya.
Menurut KH. Achmad Chalwani Nawawi, pendiri STAI An-Nawawi Purworejo, Kartini sudah mulai mengaji Qur’an sejak usianya masih 13 tahun.
Kartini adalah putri dari seorang Bupati Jepara yang menikah dengan Ngasiroh, putri seorang Kyai dari Mayong Jepara yaitu Kyai Madirono.
Baca Juga: Mudik Lebaran, Mengenal Tradisi Unik Resonansi Keindonesiaan yang Tak Lekang Dimakan Zaman
Dan Kartini yang merupakan cucu Kyai dari Mayong ini belajar mengaji Al-Qur’an kepada Kyai Sholeh Darat.
Kyai Sholeh kadang-kadang mengajarkan tafsir Qur’an kepada Kartini remaja, sebuah pengajaran yang jarang dilakukan pada masa itu.
Pada umumnya masyarakat pada masa itu hanya mengenal Al-Quran sebagai tulisan berbahasa Arab saja sehingga tidak memahami arti dan maknanya.
Kecerdasan Kartini dan semangatnya untuk mengkaji Qur’an memberanikannya untuk mengungkapkan keinginanya kepada Kyai Sholeh.
“Ketika Kartini diajarkan Tafsir dalam Bahasa Jawa, Kartini punya usul kepada Kyai Sholeh”, ungkap KH. Ahhmad Chalwani.
KH. Achmad menirukan dialog Kartini: “Kyai tadi saya diajarkan Tafsir Al’Quran memakai Bahasa Jawa, saya tentram Kyai.”
“Tolong Kyai Tafsirkan Al-Qur’an seluruhnya dalam Bahasa Jawa, biar untuk pegangan untuk teman-teman saya, putri-putri Jawa”, ucapnya lagi.
Lalu Kyai Sholeh menjawab permintaan Kartini, “Kartini, menafsirkan Qur’an itu tidak mudah, tidak semua orang diperbolehkan menafsirkan Al-Qur’an.”.
Kartini muda pun terus merajuk meminta sang guru menterjemahkan Qur’an dalam Bahasa Jawa agar mudah memahaminya.
Hingga Kyai Sholeh meneteskan air matanya karena terharu, tidak menyangka murid kecilnya memiliki pandangan yang jauh kedepan untuk kemaslahatan umat.
Hingga akhirnya dari pemikiran Katini inilah KH. Sholeh memulai membuat Tafsir dalam Bahasa Jawa yang sebelumnya belum ada yang berani melakukanya.
Tafsir tersebut baru terselesaikan 13 Juz dan dicetak di Singapura berjudul Faidur Rahman Fi Tafsiri Ayatil Qur’an, Karya Kyai Sholeh usulan Kartini ini merupakan Tafsir pertama di Asia Tenggara.
Begitulah Kartini muda, dengan pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa untuk seorang anak perempuan pada zamanya.
Baca Juga: Hasil Sidang Isbat Sudah Ditetapkan, Lebaran 1 Syawal 1444 H Jatuh pada Tanggal 22 April 2023!
Surat-surat RA. Kartini dengan teman-temannya di Belanda merupakan dialog-dialognya dalam menuangkan pemikiran akan kebebasan bangsanya khususnya kaum wanita dari keterpurukan pengetahuan.
Dan melalui tulisan RA. Kartini menuangkan pikiran akan cita-citanya, membebaskan bangsa ini dari kukungan penjajahan yang telah menguasai segala aspek kehidupan.***







