Pemerintah Arab Saudi pernah mengajukan usulan ekstrem pada 1977 dengan merencanakan penarikan gunung es raksasa dari Antarktika menuju Semenanjung Arab. Langkah tersebut dirancang untuk mengatasi kelangkaan pasokan air tawar di wilayah gurun tersebut.
Sebagai kawasan yang memiliki curah hujan sangat rendah, Arab Saudi terus berupaya memenuhi kebutuhan air bersih bagi populasinya. Pada era 1970-an, negara tersebut sejatinya telah mulai mengembangkan teknologi desalinasi air laut, tetapi biaya operasional dan produksinya saat itu masih sangat tinggi.
Pilihan mengincar Antarktika didasari fakta bahwa sekitar 70 persen cadangan air tawar dunia tersimpan di dalam lapisan es wilayah tersebut. Potensi ini memunculkan gagasan untuk memanfaatkan bongkahan es raksasa sebagai waduk terapung yang dapat dipindahkan.
Dalam skenario proyek tersebut, Pangeran Mohammed Al Faisal mengusulkan penggunaan kapal tunda berkekuatan besar untuk menarik gunung es melintasi lautan menuju Laut Merah atau Teluk Arab. Setelah sampai di tujuan, bongkahan es akan dilelehkan secara bertahap untuk dialirkan sebagai air minum.
Baca Juga: 5 Negara Masuk Lintasan Gerhana Matahari Total 12 Agustus 2026, Indonesia Tak Kebagian
Gagasan ini kemudian dipresentasikan dalam forum International Conference on Iceberg Utilization yang dihadiri sekitar 200 peneliti dari 18 negara. Guna membuktikan kelayakan ide tersebut kepada para ilmuwan, tim proyek mengangkut bongkahan es seberat dua ton dari Gletser Portage di Alaska menuju Iowa State University menggunakan kombinasi helikopter, pesawat, dan truk berpendingin.
Manfaat lain dari gagasan ini juga dipaparkan oleh Pangeran Mohammed Al Faisal dalam makalah ilmiahnya di konferensi tersebut. Ia menulis, "Arab Saudi mempertimbangkan penggunaan gunung es Antarktika sebagai sumber air tawar sekaligus cara memperbaiki iklim mikro di wilayah pesisirnya,"
Meski potensi kandungan air tawar gunung es sangat melimpah, proses pengangkutan melintasi jarak ribuan kilometer menghadirkan rintangan teknis yang amat rumit. Para peneliti harus memperhitungkan laju pencairan es selama perjalanan, hambatan angin serta arus laut, hingga opsi membungkus gunung es dengan bahan isolasi penahan panas.
Tingginya tingkat risiko perjalanan memicu skeptisisme dari sejumlah ahli. Wilford Weeks dari U.S. Army Cold Regions Research and Engineering Laboratory menggambarkan besarnya potensi kegagalan proyek ini dengan menyatakan, "Begitu Anda melewati khatulistiwa, kemungkinan yang tersisa hanyalah seutas tali di ujung kapal penarik,"
Di samping kendala teknis, para peneliti menyoroti dampak lingkungan yang timbul jika gunung es ditambatkan di kawasan pesisir, termasuk perubahan suhu air laut dan gangguan ekosistem lokal. Besarnya perkiraan biaya serta tingginya ketidakpastian membuat proyek ini akhirnya dinilai tidak layak secara ekonomi dan tidak pernah diwujudkan.
Kendati tidak pernah direalisasikan, rencana ini tercatat sebagai salah satu eksperimen paling unik dalam sejarah rekayasa sumber daya air. Konsep pemanfaatan gunung es sebagai alternatif penyedia air tawar pun masih sesekali menjadi bahan diskusi di tengah ancaman krisis air dan perubahan iklim global.






