Sebanyak lima negara tercatat berada di jalur lintasan utama Gerhana Matahari Total yang diperkirakan terjadi pada 12 Agustus 2026. Fenomena astronomi terbesar ini diproyeksikan memiliki durasi totalitas terlama hingga sekitar 2 menit 18 detik, meski durasi pasti di setiap lokasi pengamatan dapat bervariasi.
Peristiwa langka tersebut terjadi ketika Bulan melintas tepat di antara Matahari dan Bumi, sehingga menutupi seluruh piringan Matahari bagi pengamat yang berada di jalur totalitas. Momen ini tidak hanya membuat suasana siang hari berubah menjadi gelap mendadak, tetapi juga memunculkan penampakan korona Matahari yang biasanya tertutup oleh cahaya terang.
Berdasarkan data Time and Date, lima negara yang masuk dalam kawasan lintasan totalitas tersebut meliputi Greenland, Islandia, Portugal, Rusia, dan Spanyol. Pengamat yang berada tepat di garis lintasan lima negara belahan Bumi utara ini akan menyaksikan piringan Matahari tertutup sepenuhnya oleh Bulan.
Di luar koridor totalitas, puluhan negara lain tetap dapat mengamati fenomena ini dalam bentuk Gerhana Matahari Sebagian dengan tingkat penutupan yang berbeda-beda. Kawasan yang terjangkau gerhana sebagian mencakup sebagian besar Eropa, Afrika barat laut, Amerika Utara bagian utara, Samudra Atlantik, Samudra Arktik, hingga kawasan Asia utara.
Baca Juga: Rencana Arab Saudi Menarik Gunung Es Antarktika Jadi Sumber Air Tawar
Sejumlah wilayah yang dapat menyaksikan gerhana sebagian di antaranya adalah Amerika Serikat, Britania Raya, Prancis, Jerman, Kanada, Brasil, Italia, hingga Aljazair dan Maroko. Penutupan piringan Matahari di wilayah-wilayah ini bergradasi bergantung pada jarak lokasi pengamatan dari jalur utama totalitas.
Sementara itu, Indonesia dipastikan tidak masuk dalam daftar wilayah yang dapat menyaksikan fenomena astronomi ini. Seluruh wilayah Tanah Air tidak akan dapat mengamati Gerhana Matahari Total maupun Gerhana Matahari Sebagian pada 12 Agustus 2026.
Penyebab utama Indonesia tidak kebagian fenomena ini adalah letak geografis jalur gerhana yang berada jauh di belahan Bumi utara. Posisi Indonesia berada sepenuhnya di luar area lintasan bayangan Bulan, sehingga fenomena tersebut tidak akan tampak dari seluruh wilayah Nusantara.
Meskipun tidak dapat menyaksikan secara langsung dari wilayah sendiri, masyarakat Indonesia tetap dapat menyimak momen langka ini melalui siaran langsung. Berbagai lembaga astronomi internasional dan observatorium dunia dijadwalkan menyediakan tayangan daring secara langsung melalui jaringan internet.
Bagi masyarakat di negara-negara yang dilintasi gerhana, pengamatan langsung tanpa pelindung khusus sangat dilarang karena berisiko menyebabkan kerusakan mata permanen. Pengamat diimbau menggunakan kacamata gerhana berstandar internasional atau memasang filter khusus pada teleskop dan kamera, serta menghindari penggunaan kacamata hitam biasa, film rontgen, maupun alat seadanya.






