Banjir mematikan di perbatasan China-Nepal memberikan sorotan tajam terhadap meningkatnya risiko bencana di Himalaya, saat negara-negara di kawasan tersebut gencar membangun infrastruktur di dataran tinggi. Peristiwa yang terjadi pada Rabu pagi tersebut memperlihatkan kerentanan kawasan ketika gletser patah dari gunung, memicu longsor dahsyat dan melepas luapan air yang menyapu desa, jalan, jembatan, serta pembangkit listrik tenaga air.
Ancaman Ekologis di Dataran Tinggi
Daratan Himalaya menjulang dari garis patahan tektonik yang terus bergerak dan dibelah sungai-sungai besar yang airnya bersumber dari gletser. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu wilayah paling sensitif secara ekologis dan seismik, meski potensi menaklukkan sungai-sungainya menjadi proyek listrik tenaga air terus memikat para insinyur.
Pemerintah China memandang Tibet beserta wilayah perbatasan Himalaya sebagai elemen krusial keamanan nasional dan energi. Beijing menargetkan menyulap kawasan ini jadi pusat kekuatan energi hijau dataran tinggi, dengan proyek termasuk bendungan raksasa senilai USD 168 miliar.
Pembangunan Masif Lintas Negara
Tidak ada negara yang mengerahkan upaya pembangunan sebesar China di kawasan tersebut. Kemajuan teknologi pembangunan bendungan, niat beralih ke energi bersih, serta perseteruan perbatasan China-India mendorong perubahan besar di wilayah pegunungan ini.
Baca Juga: CERN Ciptakan Ledakan Mini untuk Teliti Asal Usul Alam Semesta
Perubahan pandangan terhadap kawasan tersebut turut disoroti oleh kalangan akademisi. Pegunungan tersebut berubah konsep dari yang awalnya dilihat sebagai daerah tertinggal atau tempat yang berpotensi memicu ketidakstabilan etnis menjadi sumber daya, kata Ruth Gamble, sejarawan La Trobe University di Australia.
Selain China, India serta Nepal dalam skala lebih kecil juga melakukan pembangunan masif dengan menggelontorkan ratusan juta dolar untuk berbagai proyek di area yang rentan gempa, bahaya alam, dan perubahan iklim. India membuat terowongan dan rel kereta yang memotong celah gunung yang juga dapat memfasilitasi pengerahan militer dan sumber daya lainnya di Himalaya.
Proyek Energi dan Ketegangan Geopolitik
Beijing membangun saluran transmisi listrik tegangan ultra tinggi masif untuk menyalurkan energi bersih dari stasiun pembangkit listrik tenaga air Tibet serta panel surya dan angin. Proyek bendungan raksasa baru China di sungai Yarlung Tsangpo yang mulai dibangun Juli lalu diperkirakan menghasilkan listrik lebih besar dari bendungan mana pun.
China juga membangun desa baru dan infrastruktur di sepanjang perbatasan yang disengketakan, menyusul tentara China dan India yang sempat terlibat pertempuran mematikan di perbatasan Himalaya pada tahun 2020. Sementara itu, perusahaan pembangkit listrik tenaga air terbesar yang didukung India juga membuat megaproyek pembangkit listrik tenaga air di dataran tinggi dengan kapasitas 11.200 megawatt.
Baca Juga: Ancaman Keamanan Siber Global dan Lonjakan Kasus Privasi di AS
Nepal turut meningkatkan pembangunan pembangkit listrik tenaga air di sungai Himalaya, terkadang dengan pendanaan dari dua negara tetangga yang bersaing memperebutkan pengaruh. Permintaan pasokan listrik dengan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan atau AI dapat membuat pemanfaatan sungai di kawasan tersebut makin intens dan memacu lebih banyak pembangunan.
Dampak Konstruksi dan Risiko Bencana
Para ahli mengatakan realitas konstruksi seperti meledakkan batu, menuangkan beton ke alam, dan menampung air di waduk dapat memberi dampak berbahaya. Tanah longsor, aliran puing, dan banjir luapan danau glasial merupakan ciri kawasan ini yang makin sulit diprediksi seiring perubahan iklim.
Seiring bencana yang terjadi, sempat menyebar pula rumor bahwa insiden itu diakibatkan oleh jebolnya bendungan di sisi perbatasan China. Teori tersebut tidak memiliki dasar faktual, namun menggarisbawahi bagaimana kejadian semacam itu dapat memicu ketidakpercayaan antarnegara di wilayah tersebut.
Kedutaan Besar China di Nepal merespons melalui platform X bahwa tuduhan itu tidak benar. Tuduhan tak membantu apa pun, kerja sama menyelamatkan nyawa, tulis mereka dalam tanggapan resmi tersebut.
Baca Juga: Mikroba Bumi Diyakini Mampu Bertahan di Kutub Selatan Bulan
Otoritas mencatat tidak ada indikasi bencana ini, yang telah menewaskan lebih dari 600 orang dan sekitar 3.000 hilang, terkait dengan aktivitas pembangunan. Kendati demikian, kehancuran ini menjadi peringatan bagi negara-negara yang menggenjot pembangunan bendungan, terowongan, jalan, rel, dan jembatan di Himalaya.





