Organisasi Riset Nuklir Eropa (CERN) bersama tim kolaborator internasional berhasil menciptakan ledakan mini atau ledakan besar kecil guna meneliti kondisi awal pembentukan alam semesta. Pada masa-masa awal tersebut, materi tidak berada dalam wujud yang dikenal manusia seperti saat ini.
Sekitar sepersejuta detik setelah ledakan besar terjadi, alam semesta berada dalam wujud sup yang sangat padat dan panas. Kondisi ekstrem ini dikenal oleh para ilmuwan sebagai plasma quark-gluon atau QGP. Quark sendiri merupakan komponen dasar pembentuk proton dan neutron, sementara gluon berfungsi merekatkan quark tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, fasilitas pemercepat partikel telah mampu mereplikasi wujud materi tersebut dengan menumbuk molekul pada kecepatan mendekati kecepatan cahaya. Kendati demikian, eksperimen terdahulu umumnya menggunakan elemen berat seperti timbal. Melalui eksperimen terbaru yang dimuat dalam jurnal Physical Review Letters, para peneliti membuktikan bahwa plasma tersebut dapat dihasilkan melalui tumbukan yang jauh lebih kecil menggunakan oksigen-16 dan neon-20.
Kedua unsur tersebut memiliki bobot kurang dari sepersepuluh berat atom timbal, yang sebelumnya dianggap sebagai salah satu elemen teringan untuk menghasilkan plasma quark-gluon. Eksperimen ini memperluas batasan seberapa kecil ukuran inti atom yang dibutuhkan untuk membentuk kembali materi primordial tersebut.
Baca Juga: Google Maps Ubah Danau Ontario Jadi Lake America
Meneliti Batas Ekspertrimen Materi Ekstrem
Setelah puluhan tahun mengkaji plasma quark-gluon melalui tumbukan nuklir skala besar, para fisikawan kini berupaya memahami batasan dari wujud materi yang tidak biasa ini. Para peneliti mengeksplorasi batas pengecilan skala tumbukan yang masih memungkinkan sekumpulan partikel untuk berperilaku layaknya tetesan fluida.
Dalam temuan yang didapat, tumbukan dari inti oksigen dan neon yang berukuran kecil tetap menghasilkan sinyal yang konsisten dengan perilaku plasma quark-gluon. Sesaat setelah tumbukan, materi yang dihasilkan sempat mengembang secara kolektif seperti fluida sebelum akhirnya mendingin dan kembali menjadi partikel.
Memahami Evolusi Materi Awal
Keberhasilan ini memberikan pemahaman mendalam mengenai kondisi fundamental yang diperlukan agar materi dapat bertransisi ke dalam wujud yang sangat ekstrem. Eksperimen ini juga membantu para peneliti menyingkap peristiwa yang berlangsung pada menit-menit pertama pembentukan alam semesta.
Para peneliti berharap temuan ini dapat memperjelas perilaku plasma pada masa awal pembentukan kosmos serta proses evolusinya menjadi bentuk materi pembentuk alam semesta saat ini. Penelitian lanjutan terus dilakukan untuk mendalami proses transisi materi tersebut secara lebih komprehensif.
Baca Juga: Guy Pearce Ungkap Jadwal Syuting Sekuel Priscilla Queen of the Desert





