Jendela peluncuran Teleskop Ruang Angkasa Nancy Grace Roman milik NASA dijadwalkan segera dibuka, membawa serta perangkat eksperimental yang dirancang untuk mengubah cara manusia memahami kosmos. Di dalam instrumen utama teleskop tersebut, terdapat sebuah koronagraf khusus yang berupaya menangkap langsung cahaya bintang yang terpantau memantul dari permukaan sebuah planet untuk pertama kalinya.
Proyek ambisius ini diharapkan NASA dapat merintis jalan bagi teleskop masa depan yang mampu menangkap visual planet mirip Bumi yang mengorbit bintang seperti matahari. Tugas tersebut melampaui kapasitas teknik saat ini, sehingga teknik dasarnya perlu diuji coba terlebih dahulu melalui misi Roman.
Peran Penting Cermin Adaptif Berukuran Mini
Kunci keberhasilan koronagraf Roman terletak pada dua cermin berukuran seukuran telapak tangan. Setiap cermin dilengkapi sekitar 2.300 aktuator kecil yang mengembang saat dialiri arus listrik kecil, sehingga mampu membentuk ulang cermin secara sangat presisi demi membalikkan interferensi cahaya.
Vanessa Bailey, seorang ahli astrofisika di Laboratorium Propulsi Jet NASA sekaligus ilmuwan instrumen untuk koronagraf, menyatakan bahwa pengujian ini menjadi pencapaian perdana di ruang angkasa. "Kami akan mengujinya di angkasa untuk pertama kalinya, dan kami akan memahami pekerjaan apa yang masih harus dilakukan," ujar Bailey.
Baca Juga: Sistem Mesh Wi-Fi Terbaik: Pilihan Perangkat dan Tren 2026
Tantangan Pengamatan dan Mekanisme Koronagraf
Secara mendasar, koronagraf berfungsi sebagai pelindung matahari bernilai ilmiah yang mampu menghalau cahaya bintang terang guna menyingkap objek redup yang tertutup silau. NASA mengibaratkan tantangan koronagraf Roman setara dengan memotret seekor kunang-kunang di samping lampu sorot dari jarak lintas negara.
Margaret Turnbull, ilmuwan eksoplanet di Institut SETI sekaligus pemimpin tim sains koronagraf Roman, mengingatkan besarnya hambatan teknis tersebut. "Setiap sedikit cahaya bintang yang masuk ke tempat yang salah dapat merusak seluruh bagian gambar," kata Turnbull.
Perbandingan dengan Instrumen Terdahulu
Kendati teleskop Hubble dan James Webb telah menerbangkan koronagraf, perangkat pada misi Roman jauh lebih canggih berkat teknologi optik adaptif yang mampu mengubah bentuk cermin teleskop guna meredam distorsi cahaya. Bruce Macintosh, astronom yang memimpin Observatorium Universitas California sekaligus anggota tim sains koronagraf Roman, menilai topeng bintang pada instrumen ini memiliki bentuk rumit yang belum pernah ada sebelumnya.
"Yang dimiliki Hubble sepenuhnya menggunakan kekuatan kasar, secara harfiah hanya secuil potongan logam yang menghalangi bintang," ucap Macintosh.
Baca Juga: Tren Baru Perangkat Wearable Tanpa Layar yang Minim Distorsi
Rangkaian Pengujian Sains dan Prospek Masa Depan
Selama masa operasionalnya, para insinyur akan mengumpulkan data uji untuk mengevaluasi kinerja koronagraf di luar angkasa serta mengidentifikasi kendala sebelum teknologi serupa digunakan kembali. Para ilmuwan berencana menguji perangkat tersebut dengan melihat apakah ia mampu mendeteksi sejumlah eksoplanet yang telah diketahui keberadaannya.
"Jika kami melewati semuanya dan kami tidak melihatnya, maka kami tahu ada sesuatu yang salah dengan koronagraf, karena planet-planet itu ada di sana," tutur Turnbull.
Instrumen ini juga akan mengincar beberapa bintang yang dikelilingi awan debu guna mendeteksi celah dari planet yang belum terlihat. Seluruh teknologi pada koronagraf Roman diproyeksikan menjadi landasan bagi teleskop masa depan, termasuk Observatorium Dunia Layak Huni yang direncanakan NASA meluncur pada tahun 2040-an.






