Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS) melaporkan peningkatan emisi kebakaran hutan dan lahan yang signifikan di sejumlah wilayah Indonesia dalam dua pekan terakhir. Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 21 Agustus, kondisi kebakaran musiman tahun ini dinilai relatif normal, namun intensitasnya terpantau lebih tinggi dibandingkan beberapa tahun terakhir.
Peningkatan aktivitas pembakaran tersebut mulai terdeteksi sejak akhir Juli. Situasi ini dinilai sejalan dengan pola yang terlihat pada sejumlah tahun El Nino sebelumnya, seperti pada 1997, 2005/2006, 2015, 2019, dan 2023, di mana 2026 tampaknya tidak menjadi pengecualian.
Konsentrasi Titik Api di Lahan Gambut
Sistem pemantauan atmosfer Copernicus mencatat bahwa kemunculan api pada awal musim ini terkonsentrasi di Pulau Kalimantan, khususnya di Provinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Wilayah tersebut memiliki bentangan lahan gambut yang luas dan sulit dikendalikan ketika kebakaran besar telanjur terjadi.
Selain Kalimantan, kebakaran dengan intensitas tinggi juga terdeteksi di Sumatra, serta wilayah Papua Selatan tepatnya di sekitar Taman Nasional Wasur yang didominasi kawasan lahan basah dan sabana.
Baca Juga: Karhutla Bromo Capai 720 Ha, DPR Minta Evaluasi Total SOP
Peran El Nino dan IOD Positif
Musim kebakaran tahun ini diperkirakan menjadi lebih berat akibat kondisi positif El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang kuat di kawasan Pasifik ekuatorial. Fenomena iklim tersebut lazim bertepatan dengan kondisi cuaca yang lebih kering di wilayah Indonesia.
Potensi kekeringan ini turut diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif. Menurut CAMS, kemunculan IOD positif berlangsung bersamaan dengan perkembangan El Nino yang luar biasa, kendati kedua fenomena tersebut juga dapat berkembang secara terpisah.
Pemantauan Ketat Kualitas Udara
Dampak kebakaran tidak hanya terbatas di sekitar sumber api, melainkan memicu kabut asap regional yang telah menyebar ke negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Di Pontianak, Kalimantan Barat, kondisi tersebut bahkan menyebabkan puluhan sekolah ditutup.
Dalam mengamati dinamika ini, Mark Parrington, ilmuwan senior di ECMWF yang bekerja untuk CAMS, menyatakan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif guna menganalisis perubahan kualitas udara.
Baca Juga: PMA 16/2026 Terbit, Struktur Ditjen Pesantren Resmi Terbentuk
"Kebakaran musiman dan kabut asap regional di Indonesia sudah meningkat, konsisten dengan tahun-tahun El Nino sebelumnya, dan kami akan memantau situasi dengan sangat ketat untuk memahami bagaimana kebakaran dan dampaknya terhadap kualitas udara berubah," ujar Mark Parrington.
Pemanfaatan Teknologi Satelit GFAS
Untuk melacak sebaran api, CAMS mengandalkan data Global Fire Assimilation System (GFAS) yang memanfaatkan pengamatan satelit terhadap Fire Radiative Power (FRP) guna mengukur energi dari kebakaran aktif.
Sistem ini menghasilkan estimasi emisi pembakaran biomassa secara hampir real-time serta memprakirakan sebaran polutan atmosfer hingga lima hari ke depan. Seluruh data pemantauan tersebut kini dapat diakses secara bebas melalui Atmosphere Data Store.






