Tim penyelamat dan spesialis asing berpacu menemukan puluhan pekerja yang dikhawatirkan terperangkap dalam terowongan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di Nepal akibat lumpur tebal yang mengubur fasilitas tersebut setelah banjir bandang minggu lalu.
Setidaknya 933 pekerja dilaporkan hilang di berbagai proyek PLTA yang membentang sepanjang sungai Trishuli, yang berkelok melintasi beberapa daerah terpencil dan pegunungan. Daftar Independent Power Producers' Association (IPPAN) Nepal menunjukkan sekitar 900 pekerja hilang di 11 proyek hidro berbeda, sementara sebanyak 27 PLTA mengalami kerusakan dan sekitar 12 di antaranya hampir hancur.
Operasi Penyelamatan di Terowongan
Di PLTA Trishuli 3A, tempat 42 orang dilaporkan hilang, operasi besar berlangsung untuk mengebor terowongan yang mengarah ke ruang mesin bawah tanah dengan panjang lebih dari empat kilometer. Arnold Dix, seorang ahli geologi di Australia, menyebutkan bahwa belum jelas seberapa banyak bagian terowongan yang terisi lumpur atau air.
Dalam upaya pencarian, tim penyelamat menggunakan kamera termal pada drone sambil bekerja menemukan pintu masuk terowongan serta menyingkirkan lumpur. Di pembangkit listrik Trishuli 3A, tim berhasil membuat lubang cukup besar untuk turun menggunakan tali, meski saat berseru mereka tidak menerima jawaban setelah sebelumnya memompa udara ke terowongan dan mengirimkan makanan.
Baca Juga: Enam Zona Misterius Ditemukan di Bagian Bawah Mantel Bumi
Tantangan Teknis dan Kendala Medan
Pencarian korban sangat dipersulit oleh cuaca buruk, endapan lumpur, serta hancurnya akses jalan dan jembatan di wilayah pegunungan tersebut. Ruang turbin berisiko terisi air jika sistem pemadaman darurat gagal berfungsi, yang berpotensi menenggelamkan siapa pun di dalamnya sekaligus menimbulkan risiko semburan air saat kru melakukan pengeboran.
Arnold Dix menjelaskan bahwa proses penembusan stasiun pembangkit listrik menghadapi berbagai hambatan teknis di lapangan. "Kami butuh peralatan khusus untuk menembus baja dan semua yang mengelilingi ruang turbin. Jadi, ada lapisan-lapisan kesulitan teknis," katanya.
Kondisi Pekerja dan Laporan Penyintas
Belum ada kepastian mengenai jumlah pasti pekerja yang berada di dalam terowongan ketika air bah menerjang ataupun berapa banyak yang masih bertahan hidup. Secara teoritis, ruangan dan sumber daya di dalam terowongan dapat membantu pekerja bertahan hingga berminggu-minggu, meskipun pasokan udara bersih menjadi masalah tersendiri.
Data dari penyintas mencatat bahwa setidaknya 279 pekerja PLTA berhasil diselamatkan atau keluar secara susah payah dari terowongan penuh lumpur. Salah satu penyintas, Bhakti Ram Bohara, memperkirakan hanya sekitar 100 orang yang berhasil keluar dari proyek tempatnya bekerja dan proyek terdekat lainnya dari total sekitar 1.000 pekerja.
Baca Juga: Operation Jackal IV: Interpol dan 22 Negara Sikat Sindikat Siber Afrika
Bhakti Ram Bohara menuturkan bahwa di antara para pekerja yang belum ditemukan terdapat anggota keluarga terdekatnya yang turut hilang dalam bencana tersebut. "Istrinya adalah saudara perempuan saya dan dia sedang hamil," ujarnya dengan perasaan sedih.
Konteks Infrastruktur Energi Himalaya
Kejadian ini menjadi catatan besar bagi pemerintah yang mendorong pembangunan bendungan, terowongan, jalan, kereta api, dan jembatan di kawasan Himalaya, di mana China memimpin investasi infrastruktur. Nepal, China, dan India telah menanamkan modal besar dalam beberapa tahun terakhir untuk memanfaatkan potensi energi dari aliran sungai yang deras.
Meskipun wilayah tersebut merupakan salah satu daerah paling sensitif secara ekologis dan seismik di dunia, potensi penaklukan sungai untuk proyek PLTA besar terus memikat para insinyur. Selain itu, peningkatan permintaan listrik seiring perkembangan kecerdasan buatan atau AI diprediksi membuat upaya pemanfaatan sungai di kawasan itu semakin intensif.





