Sebanyak lebih dari 153 juta dokumen pemindaian surat izin mengemudi warga Amerika Serikat dan Kanada dilaporkan bocor dan dijual secara bebas di dark web. Kasus kebocoran data berskala masif ini pertama kali diungkap oleh jurnalis keamanan siber Brian Krebs pada 2 September 2026.
Peredaran Dokumen dan Sampel Gratis
Data digital tersebut sempat dipasarkan melalui sebuah layanan bernama Nexus yang beroperasi di forum kejahatan siber asal Rusia, Exploit. Layanan ini tidak hanya menawarkan jutaan data SIM, tetapi juga mencakup dokumen penting lain seperti kartu identitas medis, catatan kepegawaian, hingga kartu tempat tinggal.
Brian Krebs mengetahui keberadaan basis data ilegal tersebut setelah menerima informasi bahwa identitas miliknya dijadikan sebagai sampel gratis untuk menarik calon pembeli. Krebs kemudian berinteraksi langsung dengan para pelaku kejahatan siber untuk memverifikasi keaslian dokumen-dokumen yang dicuri tersebut, dan para peretas memberikan pemindaian SIM miliknya sebagai bukti.
Keterlibatan Pejabat Tinggi dan Perusahaan
Dalam perkembangannya, para peretas juga menunjukkan dokumen pemindaian SIM milik Menteri Pertahanan Pete Hegseth kepada Krebs. Sejumlah korban lain juga telah mengonfirmasi bahwa data pemindaian milik mereka yang bocor adalah akurat dan sesuai dengan aslinya.
Baca Juga: Kritik Tajam New York Times Terhadap Sikap DOJ AS yang Mendukung OpenAI
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut, kebocoran ini diduga kuat berasal dari peretasan terhadap perusahaan verifikasi identitas yang berbasis di Louisiana, yakni IDScan. Sejumlah korban diketahui memiliki kesamaan, yaitu pernah menyewa kendaraan di Hertz, perusahaan yang menggunakan layanan verifikasi dari IDScan.
Penyelidikan FBI dan Penutupan Layanan
Merespons temuan tersebut, FBI melalui kantor lapangan di New Orleans telah membuka penyelidikan resmi. Di sisi lain, daftar klien IDScan juga mencakup sejumlah perusahaan besar seperti Target, FedEx, Motorola, dan Jack Henry.
Layanan Nexus yang sempat digunakan untuk memperdagangkan data tersebut kini telah ditutup, dengan halaman masuk yang mengumumkan bahwa platform itu sudah tidak lagi tersedia. Meskipun dokumen-dokumen tersebut tidak lagi diperjualbelikan secara terbuka, dikhawatirkan data tersebut masih tersebar luas di luar kendali.






