Film horor terbaru garapan sutradara Casper Kelly berjudul "Buddy" menghadirkan teror unik melalui karakter boneka unicorn oranye yang haus darah dan kasih sayang. Di balik estetika visual yang dihadirkan, film ini mengeksplorasi nuansa psikologis dan ketegangan mendalam yang dirasakan oleh para karakternya.
Dalam membaca naskah film tersebut, desainer produksi Anna Kathleen langsung menghubungkannya dengan esai karya Umberto Eco mengenai fasisme. Esai itu membahas pengalaman masa kecil di Italia pada era 1940-an ketika anak-anak harus beradaptasi dan mengikuti sistem demi bertahan hidup. Pendekatan tematik ini menjadi landasan visual bagi Kathleen dalam merancang berbagai set dalam film.
Palet Warna dan Ketatnya Aturan Visual
Untuk menciptakan rasa tidak nyaman secara visual bagi penonton, Kathleen merancang palet warna yang sangat ketat dan teratur. Penggunaan warna kuning, ungu, dan oranye secara dominan memberikan sentuhan nostalgia khas tayangan televisi anak-anak era 1980-an dan 1990-an.
"Semuanya condong ke arah sian, ungu, oranye, atau merah muda, dengan pengecualian yang jelas pada darah yang ingin kami tonjolkan dampaknya saat muncul," ujar Kathleen.
Baca Juga: Harga Langganan Bundel Apple TV dan Peacock Resmi Naik
Di dalam dunia televisi "It's Buddy!", hampir tidak ditemukan warna merah atau biru, kecuali pada karakter Mr. Mailbox yang diperankan oleh Eric Bauza serta darah dari para korban. Pemilihan warna yang tidak biasa ini sengaja dibuat untuk memunculkan kejanggalan sebelum teror kekerasan mulai terjadi dalam cerita.
Dominasi Simbol dan Atribut Karakter
Kehadiran karakter Buddy di dalam set dirancang seluas dan semasif mungkin untuk menumbuhkan rasa tertekan. Atribut dan lambat ikonik tersebut disematkan pada berbagai properti mulai dari seragam perawat, topi tukang pos, hingga bendera khusus.
"Tambalan pada seragam perawat, topi tukang pos, ada bendera Buddy, lambang itu merayap ke mana-mana," kata Kathleen menjelaskan proses kreatifnya.
Tim produksi bahkan membuat detail terkecil seperti prangko pada surat undangan ulang tahun meskipun tidak disorot secara mendalam. Segala bentuk visual tersebut bertujuan memperkuat atmosfer kekangan yang dirasakan oleh karakter Freddy bersama rekan-rekannya.
Baca Juga: Film Terbaru Luca Guadagnino ‘Artificial’ Tayang Perdana di NYFF 2026
Strategi Produksi Skala Kecil di Cleveland
Proses penggarapan film ini menuntut kreativitas tinggi karena keterbatasan sumber daya dan ruang produksi. Seluruh adegan latar dunia televisi dipusatkan pada satu panggung besar di Cleveland dengan pemanfaatan ruang yang fleksibel.
Ketika karakter Freddy, Hannah, dan Oliver melarikan diri ke wilayah hutan serta rawa, tim produksi harus merancang area tersebut dengan tingkat realisme tinggi namun tetap mempertahankan kesan artifisial. Pendekatan ini dipilih agar penonton tetap merasakan keterbatasan dunia pertunjukan anak beranggaran rendah.
"Kami adalah film kecil dengan sumber daya dan ruang yang terbatas, jadi bagaimana kami bisa menciptakan pengalaman yang mendalam bagi penonton?" tutur Kathleen.
Kathleen menegaskan bahwa keterbatasan anggaran membuat timnya tidak dapat meniru skala produksi besar layaknya film klasik era terdahulu. Oleh karena itu, estetika pertunjukan anak berbiaya rendah dipertahankan agar penonton dapat melihat celah serta kerapuhan dunia tersebut secara sadar.
Baca Juga: Netflix Rilis Teaser Film Spanyol La Bola Negra yang Sukses di Cannes
Perjalanan Emosional Melalui Pencahayaan
Penataan artistik dalam "Buddy" tidak hanya berfungsi sebagai latar tempat, melainkan media untuk menyampaikan perjalanan emosional karakter. Perencanaan pencahayaan praktis disiapkan sejak awal untuk mendukung perubahan suasana cerita yang semakin gelap menjelang akhir film.
"Kami ingin menghadirkan sedikit nuansa slasher neo-noir era 80-an ke dalam pesta dengan sentuhan warna cerah dan pencahayaan praktis dramatis yang memungkinkan hal itu," ungkap Kathleen.
Setiap elemen visual dirancang secara cermat guna merepresentasikan dinamika emosi para pemeran utama di sepanjang durasi cerita. Saat ini, film "Buddy" sudah dapat disaksikan secara langsung di bioskop-bioskop terdekat.






