Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa merilis laporan baru yang menyatakan bahwa suhu global diperkirakan akan meroket melampaui target kenaikan 1,5 derajat Celsius. Alih-alih memaparkan strategi untuk mempertahankan suhu agar tetap berada di bawah batas tersebut, dokumen bertajuk Limiting Overshoot itu merumuskan jalur guna menekan durasi bumi berada di atas suhu kritis.
Strategi Penurunan Emisi
Strategi yang disebut sebagai "overshoot, peak and decline" ini menuntut setiap negara memenuhi komitmen penghapusan emisi gas rumah kaca serta menyerap karbon dioksida dalam jumlah besar dari atmosfer. Para ahli menegaskan bahwa aksi penyisihan karbon dioksida bersifat melengkapi, dan bukan pengganti dari target emisi nol bersih yang dicanangkan saat ini.
Para pakar memperingatkan bahwa waktu singkat sekalipun pada suhu yang lebih tinggi dapat memicu dampak buruk yang semakin sulit dipulihkan. Gelombang panas ekstrem di berbagai penjuru dunia telah menunjukkan bahwa hantaman krisis iklim terjadi lebih cepat, berdampak lebih keras, serta bertahan lebih lama.
Perubahan Pesan Organisasi
Direktur Eksekutif UNEP Inger Andersen menyatakan bahwa kondisi tersebut merenggut lebih banyak nyawa dan menimbulkan gangguan yang semakin dalam. "There are no good outcomes if we remain above 1.5°C. Across the globe, extreme heatwaves are already proving that climate impacts will strike faster, hit harder, and last longer – costing more lives and causing deeper disruption," ujar Inger.
Baca Juga: Kritik Tajam New York Times Terhadap Sikap DOJ AS yang Mendukung OpenAI
Perubahan strategi ini mencerminkan kenyataan pahit mengenai sejauh mana dunia tertinggal dalam menerapkan perubahan yang diperlukan untuk mencegah kenaikan suhu. Pemerintah Amerika Serikat dan Uni Eropa tercatat sama-sama melonggarkan pembatasan emisi gas rumah kaca pada tahun ini.
Organisasi tersebut sebelumnya secara konsisten mendesak berbagai negara agar menjaga kenaikan suhu bumi agar tidak melampaui batas 1,5 derajat Celsius dari masa pra-industri seperti yang telah ditetapkan dalam Perjanjian Paris. Pergeseran pesan kini menekankan pentingnya memperkecil tingkat pelampauan dan memperpendek durasinya.
Inger Andersen menambahkan bahwa peningkatan upaya mitigasi mendesak untuk segera dilakukan demi mengembalikan situasi ke jalur yang semestinya. "Now is the time we must double down on climate action. We can — and must — get on the right path. By cutting greenhouse gas emissions, strengthening resilience and adaptation, and ensuring exceedance of 1.5°C is as small and short as possible," tuturnya.






