Google DeepMind meluncurkan WeatherNext 3, sebuah pembaruan dari model cuaca berbasis kecerdasan buatan sebelumnya yang dirancang untuk menyediakan prakiraan lebih rinci mengenai suhu, kelembapan, dan kecepatan angin. Model anyar ini mengandalkan data satelit langsung guna menyajikan informasi atmosfer yang terus diperbarui secara berkala.
Pemanfaatan data satelit langsung ini membedakan WeatherNext 3 dari model prediksi cuaca numerik konvensional yang umumnya memiliki jeda waktu hingga enam jam. Selain itu, integrasi data stasiun cuaca yang jarang memungkinkan sistem ini memberikan perincian lebih baik untuk variabel seperti tingkat kelembapan udara yang kerap berubah drastis dalam jarak satu kilometer.
Peningkatan Prediksi Presipitasi dan Integrasi NASA
Melalui penggabungan data presipitasi dari NASA serta analisis satelit milik Google sendiri, WeatherNext 3 diklaim mampu memprediksi kondisi hujan dan salju secara lebih presisi. DeepMind menyebutkan bahwa model tersebut menghasilkan prakiraan curah hujan hingga 50 persen lebih akurat, dengan peningkatan terbesar di wilayah-wilayah yang sebelumnya memiliki catatan prakiraan kurang andal.
Kemampuan sistem dalam menyediakan prakiraan per jam serta resolusi yang lebih tinggi didukung oleh data pelatihan baru. WeatherNext 3 beroperasi dalam grid kotak berukuran 5 kilometer, meningkat signifikan dibandingkan grid 25 kilometer milik versi pendahulunya, WeatherNext 2.
Baca Juga: Bocoran Harga iPhone Ultra Muncul di Australia, Termahal Tembus Rp59 Juta
Manfaat untuk Sektor Energi Terbarukan
DeepMind menyatakan bahwa model pembaruan ini akan sangat bermanfaat bagi perusahaan yang bergerak di bidang produksi energi terbarukan. Keunggulan tersebut didukung oleh kemampuan sistem dalam memperkirakan kecepatan angin setinggi 100 meter yang berada di sekitar ketinggian turbin demi mengukur keluaran energi angin secara presisi.
Selain kecepatan angin, model ini juga menyediakan data tutupan awan beresolusi tinggi serta tingkat radiasi matahari untuk membantu operasional ladang tenaga surya. Perusahaan mencatat bahwa pemanfaatan fitur-fitur ini mengoptimalkan kinerja sektor energi hijau.
Penerapan di Berbagai Layanan Google
Teknologi WeatherNext 3 tidak berdiri sendiri, melainkan dirancang untuk mendukung berbagai fitur cuaca di ekosistem Google. Model ini akan menjadi penggerak pengalaman cuaca pada layanan Google Search, aplikasi Gemini, dan Google Maps.
Tidak hanya untuk konsumen umum, infrastruktur tersebut juga diintegrasikan ke dalam layanan Google Maps Weather API serta Google Earth Engine. Integrasi luas ini memungkinkan pengembang dan pemangku kepentingan mengakses data atmosfer secara langsung.
Baca Juga: Audacity 4.0 Resmi Dirilis dengan Mode Gelap dan Fitur Suntingan Granular
Sementara itu, bagi pihak yang berminat untuk melakukan pengembangan lanjutan menggunakan teknologi tersebut, model orisinal WeatherNext telah dirilis sebagai perangkat lunak sumber terbuka atau open-source sejak Agustus 2026.






