Tim Cook meninggalkan Apple dalam kondisi yang jauh berbeda dibandingkan saat dirinya mengambil alih kepemimpinan perusahaan dari mendiang Steve Jobs. Apple kini bukan hanya tumbuh lebih besar secara bisnis, melainkan juga memiliki ekosistem produk serta layanan yang jauh lebih luas.
Namun, para pengamat teknologi menilai keberhasilan tersebut menyisakan catatan tersendiri. Apple dinilai semakin matang sebagai korporasi global, tetapi tidak lagi sesering dulu menghadirkan kejutan besar yang mengubah industri.
Warisan Skala Bisnis dan Transisi Intel
Tech reviewer sekaligus Apple enthusiast, Satish K2G, menilai kiprah Tim Cook tetap layak disebut fenomenal. Salah satu pencapaian terbesar Cook adalah memperbesar skala perusahaan secara luar biasa meski awalnya sempat dibayangi keraguan usai kepergian Steve Jobs.
"Warisan terbesar Tim Cook menurut saya adalah kemampuannya untuk scaling up Apple sebagai perusahaan," ujar Satish saat dihubungi detikINET. Ia menyoroti keberhasilan Cook dalam mengurangi ketergantungan terhadap iPhone melalui perluasan lini produk lain serta lini bisnis layanan.
Baca Juga: Waspada Modus Phishing dan Smishing, Jangan Asal Klik Pesan
Selain itu, keputusan besar meninggalkan arsitektur x86 dari Intel dan beralih ke chip berbasis Arm rancangan sendiri untuk komputer Mac dipandang sebagai langkah revolusioner. Satish menyebut langkah tersebut sebagai "totally game changer" karena memberikan kontrol penuh terhadap perangkat keras dan lunak.
Pergeseran Menjadi Produk Mainstream
Di sisi lain, perubahan karakter produk Apple turut dirasakan oleh para pengguna lama. Pada era kepemimpinan Steve Jobs, produk-produk Apple dinilai terasa lebih eksklusif dan menyasar kalangan penggiat teknologi.
Situasi tersebut bergeser drastis di bawah kendali Cook, di mana Apple memperluas varian produk dengan rentang harga yang lebih terjangkau. "Di zaman Tim Cook, produk Apple jadi produk sejuta umat dan lebih mainstream," kata Satish.
Tech creator Stella Widjaja menggambarkan perbedaan gaya kepemimpinan keduanya secara analogis. "Jobs yang bikin resepnya, kalau Cook lebih ke yang bikin restonya punya cabang di mana-mana tanpa mengubah rasanya," ucap Stella.
Baca Juga: Waspada Modus Phishing dan Smishing, Jangan Asal Klik Tautan
Kritik Inovasi dan Ketinggalan AI
Kendati sukses secara finansial, strategi Apple di bawah Cook dinilai kerap bermain aman. Satish menyebut pembaruan teknologi antar-generasi sering kali terasa kecil dan tertinggal dari para kompetitor.
"Teknologinya dicicil banget. Upgrade antar-product release minor, ketinggalan sama kompetitor dan cenderung play safe," ungkap Satish. Ia menambahkan bahwa dengan sumber daya serta dana riset dan pengembangan yang sangat besar, Apple seharusnya bisa menjadi pionir alih-alih pengikut.
Kritik senada disampaikan Stella yang menyoroti sektor kecerdasan buatan. Menurutnya, perkembangan Siri dan Apple Intelligence tertinggal dibandingkan perusahaan teknologi lain, menjadikannya salah satu titik evaluasi utama.
Harapan di Bawah Kepemimpinan John Ternus
Tongkat estafet kepemimpinan kini beralih kepada John Ternus. Harapan besar dibebankan kepada CEO baru tersebut agar mampu membawa perusahaan kembali berani mengambil risiko dan mempercepat inovasi.
Baca Juga: Telkom Terapkan Ekonomi Sirkular, Ratusan Kilogram Limbah SIM Card Diolah
Satish dan Stella sepakat bahwa latar belakang Ternus sebagai sosok yang berorientasi pada produk menjadi modal penting. Tantangan besar kini menanti untuk membuktikan apakah kepemimpinan baru ini mampu mengembalikan era kejutan inovatif di Apple.






