Film dokumenter "Once Upon a Time in Harlem" langsung mencuri perhatian sebagai peristiwa monumental di ranah film nonfiksi sejak penayangan perdana di Festival Film Sundance 2026. Karya sinema ini merupakan film terakhir dari mendiang sutradara "Symbiopsychotaxiplasm", William Greaves.
Proyek dokumenter tersebut direkam pada tahun 1972 sebelum akhirnya dirampungkan oleh putranya, David Greaves, setengah abad kemudian. Film ini mempertemukan sejumlah seniman dan intelektual terkemuka dari era Harlem Renaissance dalam sebuah acara minum koktail di kediaman Duke Ellington guna mendiskusikan warisan budaya mereka.
Pendekatan Visual dan Perjalanan Festival
Dalam proses produksinya, film ini menerapkan pendekatan tanpa campur tangan langsung, di mana kamera Greaves dibiarkan merekam jalannya percakapan antar tokoh terkemuka tanpa gangguan. Hasil akhirnya menghadirkan artefak sejarah penting yang menggambarkan luasnya spektrum gagasan dalam gerakan Harlem Renaissance serta menepis anggapan bahwa gerakan budaya tersebut dapat disederhanakan dengan mudah.
Usai debut di Sundance, film ini melanjutkan perjalanan festivalnya melalui penayangan di Festival Film Cannes, serta dijadwalkan hadir di Festival Film Telluride, Toronto, dan New York dalam waktu dekat. Neon dipastikan akan merilis film tersebut secara teatrikal pada 16 Oktober bagi para penikmat film.
Baca Juga: Film Satir CIA Wild Horse Nine Tampilkan Malkovich dan Rockwell
Latar Belakang Produksi dan Tokoh Dibalik Layar
David Greaves dicatatkan sebagai sutradara tunggal film ini, sementara mendiang ayahnya mendapat kredit khusus sebagai sosok yang menggagas dan merekam dokumenter tersebut. Di jajaran produser, film ini dikerjakan oleh Liana Greaves dan Anne de Mare yang turut menyunting film bersama Lynn True.
Melalui ulasan Sundance, digambarkan bahwa setelah menyaksikan film ini, penonton akan menyadari betapa sulitnya mempertahankan kesimpulan sederhana tentang Harlem Renaissance yang kerap ditemui di buku-buku pelajaran sekolah. Film tersebut memperlihatkan bagaimana para tokoh memiliki kepedulian tinggi terhadap kebijakan ekonomi radikal, tidak terbatas pada musik jazz, puisi, dan hak-hak sipil semata.






