Gagasan bahwa setiap individu merupakan tokoh utama dalam kisah hidupnya sendiri telah mengakar kuat sebagai sebuah keniscayaan yang jarang dipertanyakan. Namun, sutradara Robert Greene mencoba membongkar batas antara kenyataan dan seni melalui karya terbarunya yang bertajuk 'Too Much Sugar'.
Film dokumenter hibrida ini menyoroti kehidupan seorang pria asal Missouri bernama Ryan "Holli-wood" Holliger yang memanfaatkan perangkat sinema untuk menceritakan kisahnya sendiri. Karya ini memberikan sudut pandang jujur sekaligus penuh harapan mengenai kapasitas medium film dalam mentransformasikan realitas dunia.
Sebelumnya, karya terakhir Greene pada 2021 berjudul "Procession" mempertegas hubungan antara seni dan terapi yang kerap mendasari karya-karyanya. Dalam penggarapan 'Too Much Sugar', Greene membagi kredit penyutradaraan dengan 12 orang kolaborator lainnya tanpa membuat film tersebut kehilangan arah atau runtuh di bawah berbagai suara yang terlibat.
Dinamika Ekosistem Karakter
Proyek ini bermula dari perjumpaan Greene dengan Ryan ketika anak-anak mereka berada di liga bola basket remaja yang sama. Hubungan yang awalnya diwarnai persaingan itu berkembang menjadi kedekatan pribadi hingga akhirnya Ryan mengungkapkan keinginannya untuk membuat sebuah film megah tentang dirinya.
Baca Juga: Werner Herzog Sutradarai Kakak Beradik Mara dalam Film Komedi ‘Bucking Fastard’
Sebuah kartu judul di awal penayangan merangkum ketegangan utama dalam kolaborasi kreatif tersebut. "Saya setuju membantunya, saya juga meminta untuk mendokumentasikan kehidupan nyatanya," demikian tertulis dalam film tersebut.
Lingkar pengaruh Ryan sebagai seorang tukang, petarung, dan ayah meluas secara signifikan melalui enam anak yang ia miliki dari lima perempuan berbeda. Ia juga berbagi banyak pengalaman hidup, mulai dari pengurusan anak hingga masa hukuman penjara, bersama sahabat karibnya Michael "AccRite" Midgyett.
Eksplorasi Genre dan Terapi Drama
Para partisipan dalam film ini tidak langsung masuk ke dalam kerangka genre atau narasi pahlawan yang konvensional. Putra sulung Ryan yang berusia 23 tahun, Wayde, mengaku kesulitan merumuskan film tentang hidupnya sendiri karena ia belum dapat melihat masa depan yang menantinya.
Sementara itu, sahabat Ryan, AccRite, memandang sinema bukan sekadar sarana untuk membuka masa depan, melainkan juga alat untuk menulis ulang masa lalu. Ia masih dihantui oleh kematian tragis putranya yang tewas akibat penembakan pada 2023 silam, sebuah peristiwa yang ingin ia ubah melalui proses pembuatan film.
Baca Juga: Festival Film Telluride ke-53 Umumkan Daftar Putar Resmi
Dengan menggandeng terapis drama Monica Phinney, AccRite memanfaatkan ranah fiksi ilmiah untuk merekonstruksi malam kelam tersebut menggunakan perangkat pengubah waktu demi mencegah pembunuhan tersebut. "Bahkan jika itu tidak terjadi di dunia nyata, itu terjadi di dalam diri saya," ujarnya menegaskan makna proses tersebut.
Melalui pendekatan estetika yang memadukan bahasa sinema subjektif dan teknik observasional verité, film ini mengajak penonton untuk merenungkan validitas kebenaran emosional. Karya ini akhirnya menawarkan pemahaman bahwa perasaan pembaruan yang dialami subjek jauh lebih penting daripada bagaimana peristiwa itu tercipta.






