Pasar saham Indonesia mengawali pekan dengan catatan positif setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak menguat pada perdagangan Senin pagi. Penguatan ini didorong oleh menguatnya harapan pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter yang lebih longgar dari bank sentral global.
Saat pembukaan perdagangan, IHSG tercatat melonjak 30,95 poin atau 0,48 persen menuju level 6.440,60. Langkah serupa diikuti oleh kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang merangkak naik 2,16 poin atau 0,34 persen hingga menempati posisi 642,45.
Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menilai kondisi pasar global saat ini memberikan sentimen positif bagi pergerakan indeks domestik. "Turunnya peluang kenaikan suku bunga The Fed, penguatan harga emas dan koreksi harga minyak akan menjadi katalis positif bagi pergerakan IHSG," ujar Ratna Lim dalam kajian resminya.
Pendorong Utama dari Pasar Global
Sentimen utama dari mancanegara berasal dari pembaruan data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang berada di bawah perkiraan awal pasar. Laporan NonFarm Payrolls (NFP) secara tidak terduga mencatatkan penurunan sebesar 23.000 lapangan kerja pada Juli 2026, setelah adanya revisi ke bawah untuk data Juni 2026 yang hanya menambah 20.000 pekerjaan.
Baca Juga: BPS Catat 21 Provinsi Alami Penurunan Indeks Perkembangan Harga
Kondisi tenaga kerja AS yang melambat tersebut memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS, The Fed, tidak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Pelaku pasar meyakini The Fed lebih berpeluang mempertahankan tingkat suku bunga pada level saat ini.
Berdasarkan kalkulasi LSEG, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed untuk pertemuan September 2026 melorot menjadi 43,9 persen dari sebelumnya 57 persen. Sebaliknya, peluang The Fed untuk menahan suku bunga tetap melonjak drastis dari 43,2 persen menjadi 60,4 persen.
Pergerakan Bursa Global dan Regional
Penguatan IHSG juga menyelaraskan pergerakan dengan mayoritas bursa saham dunia yang sudah lebih dulu ditutup di zona hijau pada akhir pekan lalu. Pada perdagangan Jumat (7/8), bursa saham utama di Eropa kompak menguat, dipimpin oleh indeks DAX Jerman yang naik 0,69 persen dan Euro Stoxx 50 yang menguat 0,33 persen. Indeks FTSE 100 Inggris serta CAC Prancis juga melaju masing-masing 0,31 persen dan 0,17 persen.
Kondisi serupa terjadi di Wall Street pada hari yang sama. Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup naik 0,28 persen ke posisi 54.036,93, S&P 500 menguat 0,62 persen ke level 7.757,64, sementara Nasdaq Composite memimpin penguatan sebesar 1,19 persen ke level 29.722,08.
Baca Juga: IHSG Awal Pekan Melesat ke 6.440, Indeks LQ45 Ikut Naik
Tren positif ini berlanjut ke kawasan Asia pada Senin pagi. Indeks Nikkei melambung 2,01 persen ke posisi 66.924,30, Straits Times menguat 1,05 persen ke level 5.698,25, sementara Hang Seng, Kospi, dan Shanghai Composite masing-masing menanjak 0,50 persen, 0,45 persen, dan 0,41 persen.
Isu Domestik dan Agenda Ekonomi
Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada pengumuman rebalancing indeks MSCI yang dijadwalkan pada 12 Agustus 2026 dan akan berlaku efektif mulai 31 Agustus 2026. Kendati demikian, pihak MSCI dilaporkan masih memberlakukan kebijakan pembekuan untuk penambahan saham baru dari Indonesia.
Selain itu, investor domestik mencermati sejumlah rilis data ekonomi nasional sepanjang pekan ini. Rangkaian publikasi diawali dengan rilis indeks Keyakinan Konsumen pada Senin (10/8), dilanjutkan data penjualan ritel dan sepeda motor pada Selasa (11/8), serta data penjualan mobil pada Jumat (14/8).
Di sisi lain, perkembangan geopolitik global juga terus dipantau, terutama negosiasi antara Amerika Serikat, Iran, dan negara-negara di Timur Tengah terkait akses jalur perdagangan di Selat Hormuz. Investor juga menantikan rilis data statistik penting dari AS seperti CPI, PPI, penjualan ritel, dan indeks Michigan Consumer Sentiment.
Baca Juga: Pemprov DKI Rencanakan Obligasi Daerah Rp5,2 Triliun untuk Pembiayaan Pembangunan






