Sekitar sepertiga dari total responden dilaporkan membagikan rahasia kepada chatbot kecerdasan buatan yang tidak pernah mereka ceritakan kepada teman, keluarga, maupun profesional medis. Temuan tersebut terungkap dalam survei bertajuk The AI Privacy Problem yang dirilis oleh DuckDuckGo Research.
Persentase tersebut melonjak drastis hingga mencapai 56 persen di kalangan responden yang mengidentifikasikan diri sebagai antusias AI. Sementara itu, sebanyak 43 persen orang tua mengaku mengungkap berbagai hal kepada AI yang bahkan tidak mereka sampaikan kepada anggota keluarga paling tepercaya, termasuk anak-anak mereka sendiri.
Risiko Penyimpanan dan Minimnya Kepercayaan Publik
Dalam hal pelindungan data pribadi, hampir 40 persen responden menyatakan tidak memiliki kepercayaan sama sekali kepada perusahaan teknologi. Angka ketidakpercayaan bahkan menyentuh kisaran hampir 50 persen ketika responden ditanya mengenai pandangan mereka terhadap pemerintah Amerika Serikat.
Percakapan yang dilakukan pengguna dengan chatbot arus utama tidak serta-merta hilang begitu saja. Agen memori AI MemX menyebutkan dalam sebuah pos siniar bahwa interaksi semacam itu merupakan catatan bisnis alih-alih konsultasi yang bersifat rahasia.
Baca Juga: Apple Ubah Strategi Jelang Peluncuran iPhone dan Perangkat Baru
Ancaman Hukum dan Penegakan Hukum
Perusahaan penyedia model AI seperti Anthropic dengan Claude, Google dengan Gemini, serta OpenAI dengan ChatGPT memiliki kewajiban hukum untuk menyerahkan data percakapan apabila menerima panggilan pengadilan dari penegak hukum atau pemerintah Amerika Serikat. Kendati demikian, survei DuckDuckGo mencatat hanya 25 persen responden yang mengetahui ketentuan tersebut.
Transkrip ChatGPT sebelumnya pernah digunakan dalam proses investigasi kasus pembunuhan ganda di Carolina Selatan serta kasus pembakaran Palisades. Selain itu, percakapan melalui AI Snapchat juga sempat dimanfaatkan sebagai barang bukti dalam persidangan kasus pembunuhan pada tahun 2024.
Pernyataan Tokoh Industri dan Pakar
Pendiri sekaligus CEO OpenAI, Sam Altman, pernah menyampaikan pandangan serupa dalam siniar awal tahun ini. Ia menyatakan bahwa apabila seseorang membahas hal-hal paling sensitif dengan ChatGPT lalu berurusan dengan gugatan hukum, pihaknya dapat diminta untuk memproduksi data tersebut.
Di sisi lain, asisten profesor di Foster School of Business Universitas Washington, Uttara Ananthakrishnan, menyoroti masalah memorisasi data pada model bahasa besar atau LLM. Menurutnya, interaksi pengguna kerap memperlakukan alat tersebut sebagai tempat mencurahkan isi hati yang memuat kueri kesehatan sensitif maupun dilema personal.
Baca Juga: Perjalanan iPhone Air Sebagai Langkah Transisi Apple Menuju Ponsel Lipat
âKetika seseorang mengajukan pertanyaan yang sama dengan orang lain, sangat mungkin LLM memberikan jawaban persis seperti yang diberikan kepada orang sebelumnya,â ujar Ananthakrishnan.
Ia juga menambahkan bahwa sistem tersebut mungkin tidak menyadari apabila jawaban yang dihasilkan mengandung informasi yang dapat digunakan pihak lain untuk mengidentifikasi seseorang.
Penggunaan Data untuk Pelatihan Model AI
Lebih dari separuh responden survei DuckDuckGo tidak mengetahui atau merasa tidak yakin bahwa percakapan mereka dengan chatbot dimanfaatkan untuk keperluan pelatihan sistem AI. Dari total responden yang mengetahui hal tersebut, hampir tiga perlima menyatakan merasa tidak nyaman, sementara 30 persen lainnya merasa sangat tidak nyaman.
Pelatihan AI sendiri pada dasarnya merupakan proses memasukkan data dalam jumlah masif ke dalam sistem agar teknologi tersebut mampu mengenali pola, mengambil keputusan, serta menyelesaikan masalah. Terkait masalah kerahasiaan, para peneliti menegaskan bahwa asumsi masyarakat mengenai percakapan privat dengan chatbot pada sebagian besar kasus ternyata tidak terbukti benar.
Baca Juga: Meta Perbarui Aturan Instagram dan Facebook untuk Pengguna Remaja






