Kehadiran iPhone Air dengan bodi super tipis dan ringan sempat menarik perhatian luas sejak pertama kali diperkenalkan di Apple Park. Mengusung ketebalan hanya 5,6 miligram dengan bobot 165 gram serta banderol harga 999 dolar Amerika Serikat, perangkat ini dirancang untuk mengisi celah di antara model standar dan varian Pro.
Namun, di balik daya tarik visual tersebut, penjualan perangkat ini tercatat tidak begitu masif di pasaran. Menurut data dari firma riset IDC, iPhone Air terjual sebanyak 7,7 juta unit dalam rentang empat kuartal. Angka tersebut hanya menyumbang sekitar 1,8 persen dari total penjualan ponsel cerdas Apple pada kuartal kedua tahun 2026.
Kompromi Komponen dan Spesifikasi
Desain bodi yang sangat ramping membuat ruang internal perangkat menjadi sangat terbatas, sehingga berdampak langsung pada kapasitas baterai dan sektor kamera. Pengguna harus puas dengan satu kamera belakang bersensor sudut lebar 48 megapiksel serta dukungan pengisian daya 29 watt yang tergolong standar.
Kendala serupa juga dialami oleh pesaing terdekatnya, Samsung Galaxy S25 Edge, yang dibanderol 1.100 dolar Amerika Serikat dan hanya mencatatkan penjualan 2,3 juta unit selama lima kuartal. Francisco Jeronimo selaku wakil presiden perangkat klien di IDC menyatakan bahwa kompromi pada baterai dan kamera tidak sebanding dengan harga premium yang harus dibayar konsumen.
Baca Juga: Aplikasi Peta Pertimbangkan Perubahan Nama Danau Ontario
"Kompromi tersebut tidak cukup membuat seseorang bersedia membayar harga premium, hanya karena ponsel itu sedikit lebih tipis daripada ponsel cerdas pada umumnya," ujar Francisco Jeronimo.
Peran Strategis Menuju Pasar Ponsel Lipat
Meski penerimaannya di pasaran terbilang moderat, para pengamat menilai perangkat ini memiliki fungsi krusial sebagai batu loncatan. Riset dari Gartner menyebutkan bahwa produk generasi pertama ini berfungsi menguji batas minimal fitur yang dapat diterima pasar sekaligus membangun fondasi komponen untuk lini ponsel lipat.
"Langkah pertama iPhone Air ini pada akhirnya mungkin akan dipandang sebagai tahap transisi alih-alih kategori produk yang gagal," ungkap Rishi Padhi selaku peneliti utama di Gartner.
Pengalaman serupa pernah diterapkan oleh Samsung melalui peluncuran Galaxy S25 Edge yang mendahului kehadiran seri ponsel lipat Galaxy Z Fold. Dengan persiapan matang dan rencana peluncuran perangkat lipat yang diantisipasi pada bulan September mendatang di Cupertino, California, industri teknologi kini menantikan bagaimana Apple akan mengubah peta persaingan pasar global.
Baca Juga: Meta Gulirkan Pembaruan Kacamata Pintar Atasi Privasi Perekaman






