Firma riset IDC mengeluarkan proyeksi terbaru yang menunjukkan bahwa pasar smartphone global menghadapi tekanan lebih berat dari perkiraan sebelumnya sepanjang tahun 2026. Berdasarkan laporan tersebut, pengiriman perangkat telekomunikasi genggam ini diperkirakan mengalami penurunan hingga 16,7 persen pada tahun ini. Angka proyeksi tersebut lebih dalam dibanding perkiraan penurunan sebesar 13,9 persen yang sempat disampaikan pada bulan Mei lalu.
Penyebab utama dari penurunan pengiriman ini bersumber dari masalah pasokan komponen memori yang mengalami lonjakan harga drastis. Biaya komponen NAND dan RAM melonjak lebih dari 300 persen secara tahunan karena produsen chip mengalihkan kapasitas produksi untuk memenuhi permintaan pusat data kecerdasan buatan yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.
Akibat lonjakan biaya produksi tersebut, para produsen tidak lagi sanggup menanggung beban finansial sehingga harga jual rata-rata perangkat melonjak 27,61 persen menjadi USD 581. Tren kenaikan harga ini diperkirakan masih akan terus berlanjut hingga tahun 2027 mendatang.
Francisco Jeronimo selaku Vice President for Worldwide Client Devices IDC menjelaskan situasi pasar terkini dalam keterangan resminya pada Jumat, 28 Agustus 2026. "Tsunami memori yang telah kami peringatkan kini menghantam pasar sepenuhnya, dan konsumen mulai membayar tagihan AI," ujarnya.
Baca Juga: Aplikasi Peta Pertimbangkan Perubahan Nama Danau Ontario
Tekanan Berat pada Segmen Android Murah
Dampak terparah dari krisis pasokan komponen ini dirasakan langsung oleh para vendor ponsel berbasis Android. Total pengapalan perangkat Android diproyeksikan merosot 24,3 persen pada tahun 2026 akibat ambruknya pasar di kelas pemula. IDC mencatat pengapalan ponsel dengan harga di bawah USD 100 anjlok hampir 60 persen pada kuartal kedua tahun 2026.
"Era smartphone murah telah berakhir. Mulai sekarang, pemenangnya adalah vendor dengan skala dan posisi tawar untuk mempertahankan permintaan. pada harga yang belum pernah harus dibayar ooleh konsumen sebelumnya," kata Francisco Jeronimo.
IDC menambahkan bahwa para produsen yang selama ini berfokus pada perangkat kelas bawah dengan margin keuntungan tipis terpaksa memangkas produksi model tersebut. "Vendor ponsel Android yang fokus pada perangkat low-end, yang sudah beroperasi dengan margin keuntungan yang sangat tipis, memangkas model low-end dan mendorong campuran produk high-end," tulis laporan IDC.
Pergeseran Tren dan Segmen Foldable
Kenaikan harga yang terjadi pada kategori menengah turut mengubah kebiasaan belanja konsumen secara keseluruhan. Ponsel kategori flagship kini mulai dinilai sebagai alternatif pembelian yang lebih rasional dibandingkan perangkat kelas menengah yang harganya terus merangkak naik.
Baca Juga: Meta Gulirkan Pembaruan Kacamata Pintar Atasi Privasi Perekaman
Di tengah pelemahan berbagai kategori pasar, segmen ponsel layar lipat atau foldable justru menunjukkan tren pertumbuhan yang berlawanan. Segmen perangkat lipat ini diprediksi mencatatkan pertumbuhan sebesar 12,6 persen pada tahun 2026 yang didorong oleh performa penjualan kuat dari Galaxy Z Fold 8 serta potensi kehadiran produk iPhone layar lipat.






