BERITA TREN – Setiap tahun, terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, masyarakat Indonesia disibukkan dengan kegiatan mudik lebaran. Sebuah tradisi turun temurun yang menjadi tren hajat nasional.
Tradisi mudik lebaran alias pulang kampung menjelang perayaan hari raya umat Islam, Idul Fitri yang jatuh pada tanggal 1 Syawal dalam penanggalan Hijriah. Faktanya, juga banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia non muslim.
Biasanya, tradisi mudik lebaran ini dilakukan oleh orang-orang yang merantau, tujuannya tentu untuk melepas rindu; berkumpul, bertemu, dan bersilaturahim dengan keluarga di kampung halaman.
Ditinjau dari sisi sejarah, ternyata di Nusantara tradisi unik ini sudah ada sejak Zaman Kerajaan Majapahit. Tradisi ini turun temurun dari nenek moyang zaman tersebut hingga generasi zaman sekarang.
“Ini momen healing dan traveling masal,” kata Lyondra pada BeritaTren.com, seorang pelajar sebuah SMP mewakili generasi milenial, Jumat (21/04/2023).
Tradisi mudik bagi perantau juga bertujuan untuk menunjukkan eksistensi sebuah keberhasilan.
Mereka dapat berbagi dengan sanak famili yang telah lama ditinggalkan, untuk ikut merasakan keberhasilan.
Dari sisi lain, mudik juga menjadi terapi psikologi, memanfaatkan waktu libur lebaran dengan berwisata setelah satu tahun sibuk dalam rutinitas pekerjaan, sehingga pada saat masuk kerja kembali memiliki semangat baru.
Ditilik dari asal kata, “mudik” dan “lebaran” yang sering muncul pada bulan Ramadan dan menjelang Hari Raya Idul Fitri ini berasal dari bahasa Jawa Ngoko, yakni “muleh dikek” yang berarti “pulang sebentar”.
Sementara “lebaran”, diartikan sebagai sebuah keleluasaan atau kelegaan hati setelah sebulan penuh berpuasa.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “mudik” adalah “ke udik” atau “pulang ke kampung halaman”.
Pemerintah mencatat, mudik terasa mulai muncul sekitar tahun 1970-an. Dimana pada saat itu Jakarta masih menjadi satu-satunya kota besar di Indonesia.
Banyak orang dari desa atau luar kota datang mencari kerja ke Jakarta (urbanisasi). Mereka datang bergelombang ke kota untuk mengadu keberuntungan.
Baca Juga: Hasil Sidang Isbat Sudah Ditetapkan, Lebaran 1 Syawal 1444 H Jatuh pada Tanggal 22 April 2023!
Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair), Prof. Dr. Purnawan Basundoro, S.S,.M.Hum., urbanisasi membuat masyarakat mulai merindukan kampung halamannya.
Dalam perkembangannya, gelombang arus mudik yang juga memutar kencang roda perekonomian di semua sektor kehidupan ini pun menjadi agenda paling menyibukkan pemerintah.
Pemerintah sebagai pelayan masyarakat berusaha menghadirkan fasilitas dan pelayanan terbaik untuk membantu kelancaran dan ketertiban para perantau dalam arus mudik.
Hal tak kalah pentingnya adalah momen usai mudik lebaran. mereka akan meninggalkan kampung halaman kembali ke tempat mereka sebelumnya beraktifitas. Gelombang ini disebut arus balik.
Baca Juga: Menag Pastikan Pemerintah Fasilitasi Ibadah Salat Idul Fitri 1444 H Bagi Warga Muhammadiyah
Tak sedikit perusahaan tempat mereka bekerja bahkan pemerintah daerah tempat kampung halaman mereka yang tergerak memfasilitasi armada perjalanan untuk mudik gratis.
Semua mengakui telah terjadi simbiosis mutualisme dalam sektor ekonomi.
Ditemui di Tempat Istirahat dan Pelayanan (TIP) jalan tol, rest area KM 163 B tol Gunung Batin, Lampung, Ratimin (23th) salah satu pemudik tujuan Kabupaten Mesuji berbagi cerita dengan kontributor BeritaTren.com
“Bersama rombongan Mas, pulang ke Mesuji, iya ini difasilitasi perusahaan,” kata Ratimin.
Fenomena eksodus pemudik sering terlihat antri berdesak-desakan di terminal, stasiun, dan pelabuhan serta macet panjang.
Mereka rela memanfaatkan waktu libur panjang dengan susah payah bahkan beresiko demi bisa melaksanakan tradisi pulang kampung dan berkumpul bersama keluarga saat lebaran.
Bagi mereka, terutama yang bekerja di perusahaan yang hanya bisa pulang kampung di saat libur panjang. Momentum ini meluas dan terlihat berkembang menjadi sebuah fenomena.
Kondisi tersebut terlihat saat libur panjang terutama menjelang Hari Raya Idul Fitri, dalam suasana pulang kampung biasa jarang diistilahkan dengan kata mudik.
Magnet utama dalam peristiwa pulang kampung mudik lebaran adalah bertemu dengan orang tua.
Ditemui di tempat lain, seorang pemudik tampak berkaca-kaca bisa pulang kampung.
“Sejak covid kemarin kami tak bisa pulang Mas, kangen orang tua,” tutur Daryatmo.
Baca Juga: Ini Dia Beberapa Cara Mengatasi Masalah Susah BAB Selama Puasa di Bulan Ramadhan, Pakai Cara Alami!
Kepada kontributor BeritaTren.com, pria yang memboyong keluarganya mudik naik sepeda motor itu menjelaskan, ia wajib pulang kampung untuk mencari berkah, karena bisa bertemu orang tua, silaturahmi dengan keluarga, kerabat dan tetangga.
Ketika ditanya soal barang bawaannya, pemudik yang sedang antre di SPBU itu sambil tersenyum menjawab, biasa Mas sedikit oleh-oleh dari kota.
Ada yang menarik dalam fenomena ini, masyarakat ternyata tak bisa meninggalkan tradisi mudik ini.
Bagi pemudik atau perantau, tradisi mudik lebaran adalah wajib, dan ini juga menjadi pengingat asal usul daerah mereka.
***







